Manado, mediaperkebunan.id – Harga jual Minyakita di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami kenaikan, bahkan sudah di atas harga eceran tertinggi (HET), dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini.
Sejumlah wilayah tingkat dua di provinsi itu diduga menjadi pemicu kenaikan harga Minyakita, di antaranya adalah Kotamadya Manado, Kotamadya Kotamobagu, Kabupaten Minahasa Utara, serta Kabupaten Minahasa Selatan.
Kondisi yang terjadi di Provinsi Sulut tersebut memantik perhatian dari dua kementerian, yakni Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang terus melakukan pemantauan dan memastikan proses distribusi Minyakita di Sulut berjalan lancar.
Bahkan, belum lama ini kedua pihak melakukan pengawasan distribusi dan pemantauan harga Minyakita di Pasar Bersehati, Kota Manado, serta di gudang milik Perum BULOG Kantor Wilayah (Kanwil) Sulut dan Gorontalo.
“Dalam proses pemantauan dilakukan rangkaian pengawasan dalam rangka memastikan ketersediaan stok dan kesesuaian harga Minyakita di wilayah Sulut,” terang Direktur Tertib Niaga, Direktorat Jenderal (Dirjen) Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Mario Josko
“Hasil pengawasan menunjukkan, stok Minyakita tersedia dan mencukupi dengan harga sesuai HET, yaitu Rp15.700/liter,” tambah Mario Josko seperti dikutip Mediaperkebunan.id, Senin (15/9/225).
Mario menerangkan, berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 10 September 2025, harga rata-rata Minyakita di tingkat nasional tercatat stabil dalam sebulan terakhir, yaitu sebesar Rp 16.700 per liter.
Sedangkan harga Minyakita di Sulut secara umum masih di atas HET, tetapi mengalami penurunan harga, dengan rata-rata harga Minyakita per 10 September 2025, yaitu Rp 16.425 per liter.
Mario Josko bilang, penurunan harga rata-rata Minyakita tersebut sebesar 5,7 persen jika dibandingkan minggu sebelumnya yang sebesar Rp 17.425 per liter.
“Harga Minyakita di Kota Manado sudah sesuai HET Rp 15.700 per liter. Kabupaten Minahasa Utara dan Kabupaten Minahasa Selatan sudah turun menjadi Rp 16.000 per liter, tapi Kota Kotamobagu masih tinggi, yaitu Rp18.000 per liter,” urai Mario Josko.
Pihaknya berharap dengan adanya pasokan yang kontinu, harga Minyakita terus mengalami tren penurunan hingga stabil sesuai HET.
Saat ini, ujarnya, Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Utara telah mendapatkan pasokan Minyakita dari WILMAR Group, yaitu PT Multi Nabati Sulawesi sebanyak 96.000 liter yang akan didistribusikan secara merata di Provinsi Sulawesi Utara.
Pasokan Minyakita diharapkan akan terus berlanjut secara kontinu guna memastikan ketersediaan stok Minyakita di wilayah Sulawesi Utara.
“Produsen dan distributor lain diharapkan dapat ikut membantu pemerataan pendistribusian Minyakita, baik melalui distributor maupun BUMN Pangan. Kementerian Perdagangan secara aktif akan terus mendorong pasokan Minyakita ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar Mario.
Mario Josko menegaskan, Kementerian Perdagangan akan terus berkoordinasi serta melakukan pengawasan ke berbagai daerah lain.
Selain untuk memastikan ketersediaan stok dan kesesuaian harga, pengawasan juga dilakukan untuk memastikan kesesuaian produk dalam rangka perlindungan konsumen.
Kementerian Perdagangan juga mendorong pemerintah daerah untuk aktif melakukan pengawasan bersama Satgas Pangan dan berkoordinasi dengan produsen, distributor, dan Perum Bulog.
Hal tersebut dilakukan guna memastikan ketersediaan stok dan keterjangkauan harga Minyakita di wilayahnya masing-masing.

