JAKARTA, mediaperkebunan.id – Harga minyak atsiri melonjak tajam, petani minyak atsiri bersorak dan mulai bernafas lega. Minyak serai wangi, misalnya naik di atas Rp 200 ribu per kilogram (kg). Padahal dalam tiga tiga tahun terakkhir harganya anjlok berkisar 100 ribu/kg.
“Alhamdulillah panen serai wangi masih lancar. Harga melonjak di atas 200-an per kilo,” ujar Ketua Petani Kelompok Perhimpunan Petani dan Penyuling Minyak Atsiri Sumatera Barat, Djuanardi kepada mediaperkebunan.id, seperti dikutip Selasa (9/7/2024).
Menurut Djunardi, harga nornal serai wangi sekitar Rp 170 ribu/kg. Namun sekarang naik hingga Rp 240 ribu/kg. “Semoga petani naik kelas,” harapnya.
Bukan hanya serai wangi, kata Djunardi, minyak nilam juga naik hingga Rp 1,4 jt/kg. Kenaikan harga ini membuat petani atsiri semangat lagi untuk merawat tanamannya. Karena sebelum itu harganya selalu rendah. Bahkan di bahwa harga pokok produksi.
Hanya saja, lanjut Djunardi, kenaikan ini tidak diimbangi produksi yang maksimal. Karena produksi saat ini anjlok hingga 60 persen sejak April lalu. “Banyak petani yang alih tanaman sewaktu harga anjlok di 130 ribuan,” tukas Ketua Tani Agribisnis Atisiri Kota Solok, Sumatera Barat ini.
Serai wangi yang ditanam petani disuling sendiri dengan memanfaatkan ketel. Lama penyulingannya 7-8 jam untuk ketel isi 1 ton daun sereh wangi. Pada umumnya volume ketel yang digunakan petani 500 kg-1 ton dengan rendemen minyak yang dihasilkan 0,8-1 persen.
Dari serai wangi, sebanyak 70 persen minyak yang dihasilkan dijual ke eksportir, dan sisanya yang 30 persen diolah sendiri menjadi sabun mandi padat maupun cair. Minyak sereh wangi juga bisa dijadikan aromatherapy, minyak urut dan obat tradisional. Sedangkan minyak yang kotor bisa diolah menjadi pestisida organik dan disinfektan.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani atau pekebun untuk mengembangkan agribisnis sereh wangi dan hilirisasi agar mendapat nilai tambah. (YR)
