Jakarta, mediaperkebunan.id– Harga lada dunia pada 9 April 2025 mengalami fluktuasi dengan penurunan pada produsen utama yakni Indonesia, Vietnam, dan Brazil. Saat ini industri lada dunia sedang menghadapi tantangan akibat pajak resiprokal yang diterapkan oleh presiden Amerika Serikat, Donald Trump.Â
Dilansir dari Surat Kabar Pertanian Vietnam, pajak resiprokal yang dikenakan oleh pemerintah Amerika Serikat ke Vietnam sebanyak lebih dari 46% telah mempengaruhi penurunan harga lada domestik Vietnam. Vietnam masih menjadi pemasok lada terbesar ke pasar AS, menyumbang hingga 77% dari total volume lada yang diimpor oleh negara tersebut. Namun, pengenaan pajak itu membuat kekhawatiran petani dan juga mengakibatkan tekanan pasokan untuk periode panen selanjutnya.
Menurut laporan terbaru International Pepper Community (IPC) mengenai harga lada dunia pada periode 9 April, negara-negara produsen utama seperti Indonesia, Brazil, dan Vietnam semuanya mencatat sedikit penurunan:
- Lada hitam Lampung (Indonesia): Saat ini diperdagangkan di harga USD 7.117/ton, turun 1,71% dibandingkan hari perdagangan sebelumnya.
- Lada putih Muntok (Indonesia) : Di harga USD 9.764/ton, turun 3,09%.
- Lada hitam ASTA 570 (Brasil) : Saat ini berada di harga USD 6.800/ton, turun 2,16%.
- Lada hitam 500 g/l (Vietnam) : Berada di harga USD 6.600/ton, turun sebanyak 7.58%.
- Lada hitam 500 g/l (Vietnam) : Turun 7.35% menjadi USD 6.800/ton
- Lada putih ASTA (Vietnam) : Turut mengalami penurunan sebesar 5.21% menjadi USD 9.600/ton
- Lada hitam ASTA (Malaysia) : Tetap stabil di harga USD 9.850/ton.
- Lada putih ASTA (Malaysia) : Juga stabil di harga USD 12.300/ton.
Harga lada hari tercatat mengalami penurunan yang cukup tajam sehingga akan menimbulkan kekhawatiran bagi petani dan pelaku usaha ekspor. Saat ini pasar dunia juga mengalami fluktuasi sehingga diperlukan pemantauan pasar yang cermat agar dapat melakukan penyesuaian produksi yang diperlukan.

