Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga lada dunia per 29 Desember 2025 dilaporkan masih bergerak stabil di tengah keadaan pasar yang cukup fluktuatif dalam seminggu terakhir. Sejumlah negara produsen utama berada pada harga yang sama, meskipun sebelumnya sempat terjadi tekanan penurunan harga di beberapa wilayah.
Dilansir dari International Pepper Community (IPC), harga lada hitam Lampung di Indonesia masih bertahan di kisaran US$6.812 per ton. Sementara itu, lada putih Muntok yang dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan berada pada level US$9.179 per ton. Stabilnya harga lada domestik mencerminkan kondisi pasar global yang cenderung menahan laju penurunan lebih lanjut.
Kondisi serupa juga terlihat di Malaysia. Harga lada hitam Kuching ASTA saat ini diperdagangkan di kisaran US$9.000 per ton sedangkan lada putih ASTA Malaysia berada di level yang lebih tinggi yakni sekitar US$12.000 per ton. Di pasar Brazil, harga lada hitam ASTA 570 tercatat berada di kisaran US$6.000 per ton.
Sementara itu, Vietnam sebagai salah satu produsen dan eksportir lada terbesar dunia juga mencatat harga yang relatif stabil. Lada hitam 500 gram per liter diperdagangkan pada harga sekitar US$6.500 per ton, sedangkan varietas 550 gram per liter mencapai US$6.700 per ton. Untuk lada putih berada di kisaran harga US$9.250 per ton.
Secara harga lada dunia pada akhir tahun 2025 ini masih berada dalam kondisi stabil. Namun, dalam sepekan terakhir pasar lada sempat mengalami penurunan tajam sekitar lebih dari 1,2% terjadi di Indonesia dan Brasil. Adapun harga di negara produsen lainnya relatif tidak mengalami perubahan signifikan.
Stabilnya harga lada global saat ini ditopang oleh berkurangnya pasokan dari sejumlah negara produsen utama. Kondisi cuaca yang kurang mendukung ditambah dengan penyusutan luas lahan tanam lada berdampak langsung terhadap penurunan hasil panen dan produksi.
Bersumber dari Agriculture and Environment Newspaper Vietnam, memasuki periode 2025/2026 pasar lada global diperkirakan masih akan bergerak dengan hati-hati. Penurunan produksi pada 2025 berpotensi membuka peluang kenaikan harga, meskipun prospek pemulihan pasar pada 2026 sangat bergantung pada kondisi iklim. Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pasar lada global ke depan.

