Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga kopi global terus menguat dipicu oleh ketatnya pasokan dan kondisi cuaca di Brasil. Pada perdagangan terbaru, kontrak arabika Desember (KCZ25) naik +2,12% dan robusta November (RMX25) naik +1,12%.
Melansir dari Barchart, harga kopi ini memang masih di bawah level tertinggi 3,5 bulan terakhir, namun tren penguatan sudah terlihat sejak empat minggu terakhir. Faktor utama pendorongnya adalah penurunan stok di bursa dan kondisi cuaca ekstrem di Brasil, negara produsen kopi terbesar dunia. Data menunjukkan stok robusta ICE turun ke level terendah satu bulan sebesar 6.552 lot, sementara stok arabika merosot ke posisi terendah 1,25 tahun di 714.936 karung.
Laporan Somar Meteorologia mengungkapkan bahwa wilayah Minas Gerais sentra arabika terbesar Brasil tidak menerima hujan selama sepekan hingga 23 Agustus. Bahkan, frost pekan lalu juga dilaporkan merusak sebagian tanaman kopi, yang semakin memperkuat tren kenaikan harga kopi dunia.
Pasokan Kopi ke AS Menyusut
Kekhawatiran juga datang dari pasar Amerika Serikat. Pembeli AS mulai membatalkan kontrak baru dengan eksportir Brasil akibat tarif 50% terhadap ekspor kopi, membuat pasokan kopi di pasar AS semakin ketat. Padahal, sepertiga dari kopi yang tidak dipanggang di Amerika berasal dari Brasil.
Data dari Kementerian Perdagangan Brasil menunjukkan, ekspor kopi mentah pada Juli 2025 turun 20,4% secara tahunan menjadi 161.000 MT. Sementara menurut Cecafe, ekspor kopi hijau Brasil di bulan yang sama anjlok 28% y/y menjadi 2,4 juta karung. Rinciannya, ekspor arabika turun 21% dan robusta merosot 49%.
Panen Brasil Hampir Selesai
Di sisi lain, panen kopi Brasil yang hampir rampung menekan harga. Koordinator koperasi kopi terbesar, Cooxupe, menyebutkan bahwa panen anggota mereka sudah 91,3% selesai per 22 Agustus. Laporan Safras & Mercado juga menunjukkan panen 2025/26 sudah 99% rampung, terdiri dari 100% robusta dan 98% arabika.
Situasi Global dan Vietnam
Organisasi Kopi Internasional (ICO) melaporkan ekspor global pada Juni naik 7,3% y/y menjadi 11,69 juta karung. Namun, secara kumulatif Oktober–Juni, ekspor turun tipis 0,2% menjadi 104,14 juta karung.
Di sisi lain, produksi kopi Vietnam—produsen robusta terbesar dunia—mengalami penurunan tajam akibat kekeringan. Pada musim 2023/24, produksi anjlok 20% menjadi 1,472 juta MT, level terendah dalam empat tahun. Ekspor Vietnam sepanjang 2024 juga turun 17,1% menjadi 1,35 juta MT. Meski begitu, data Januari–Juli 2025 menunjukkan ekspor naik 6,9% menjadi 1,05 juta MT.
Proyeksi Produksi Kopi Dunia
USDA memperkirakan produksi kopi global 2025/26 naik 2,5% menjadi rekor 178,68 juta karung. Produksi arabika diproyeksikan turun 1,7% menjadi 97,02 juta karung, sedangkan robusta naik 7,9% menjadi 81,65 juta karung.
Brasil diprediksi meningkatkan produksi sebesar 0,5% menjadi 65 juta karung, sementara Vietnam naik 6,9% ke level tertinggi empat tahun sebesar 31 juta karung. Meski begitu, Volcafe memproyeksikan defisit arabika global 2025/26 sebesar 8,5 juta karung, lebih lebar dari defisit 5,5 juta karung di 2024/25. Ini akan menjadi tahun kelima berturut-turut pasar arabika mengalami defisit.
Tren Positif Harga Kopi
Dengan kombinasi pasokan ketat, cuaca yang mengganggu produksi, dan tren ekspor yang menurun, harga kopi global diperkirakan masih akan bergerak naik dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini sekaligus menegaskan posisi kopi sebagai salah satu komoditas perkebunan yang paling strategis di pasar internasional.

