Nganjuk, mediaperkebunan.id – Harga gula tebu di banyak daerah di Indonesia, terutama di Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang dikenal sebagai sentra perkebunan tebu, terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir ini.
Kondisi tersebut terjadi karena saat ini banyak gudang pabrik gula yang sudah penuh namun kesulitan dalam memasarkannya. Di saat yang sama, gula tebu juga harus berhadapan dengan gula rafinasi yang membanjiri pasar.
“Seperti ada pembiaran dari pemerintah terhadap kondisi ini,” kata Soemitro selaku Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) saat dihubungi Mediapetkebunan.id melalui telepon seluler (ponsel), kemarin.
Kata petani tebu asal Kabupaten Nganjuk, Jatim, ini, saat ini tidak hanya harga gula tebu yang turun, tetapi juga harga tetes atau molase tebu juga terus turun.
Menurut Soemitro, kalau harga gula tebu turun, maka itu sudah pasti memengaruhi harga pembelian tebu dari kebun rakyat.
Dia menyebutkan seperti ada pembiaran dari pemerintah karena situasi ini sendiri sebenarnya sudah dipublikasikan secara luas oleh media massa, tetapi justru di saat yang sama pemerintah tidak memberikan reaksi sama sekali.
“(Anjloknya harga gula tebu ini) sudah dipublikasikan di mana-mana, tetapi tetap tidak ada tanggapan dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini,” kata Soemitro lagi.
Soemitro mengatakan situasi ini terjadi karena disebabkan banyak hal, baik dari mulai yang terkait kredit usaha rakyat (KUR) yang justru sulit diakses oleh petani tebu.
Atau, kata dia lagi, ada kecenderungan dari para pedagang yang tampak berhati-hati dalam menyerap gula tebu milik petani. Dia menjelaskan, selama ini yang membeli gula tebu itu adalah pedagang, bukan pemerintah.
“Sampai sikap pemerintah sendiri yang justru membuka keran impor gula sehingga memukul dengan sangat keras harga gula tebu,” ungkap Soemitro lebih lanjut.
“Pemerintah berkoar-koar tidak akan impor gula pada tahun 2025 ini, tetapi nyatanya pemerintah tetap melakukan impor juga. Sikap ini menimbulkan kegelisahan dalam pasar,” ujar Soemitro.
Akibatnya bisa ditebak! Soemitro bilang para pedagang menjadi begitu sangat berhati-hati dalam melakukan pembelian gula tebu yang diproduksi dari kebun petani.
“Para pedagang tidak mah rugi. Mereka akhirnya memilih untuk membeli gula tebu petani untuk stok dalam jangka waktu setahun, karena di saat yang sama mereka melihat pemerintah sudah impor gula,” ungkap Soemitro.
“Seperti yang saya bilang tadi, pedagang tentu saja tidak mau rugi. Petani lah yang harus menanggung hal ini, dan di saat yang sama, tidak ada sikap dari pemerintah,” tegas Soemitro selaku Ketua Umum APRTI.

