Jakarta, mediaperkebunan.id – Di era 4.0 menuju 5.0, hampir semua kinerja dilakukan secara digitalisasi, termasuk pada sektor komoditas perkebunan, salah satunya pada sub sektor perkebunan kelapa sawit. Digitalisasi dilakukan untuk meningkatkan daya saing serta efisinsi sehingga berdampak kepada peningkatan ekonomi.
Lebih lanjut saat ini Indonesia memiliki 42,3 juta hektar agrikultur, dimana sekitar 16 juta hektar adalah perkebunan kelapa sawit dengan potensi market mencapai US$ 30 miliar dan diiringi sekitar 2.000 perusahaan perkebunan, 33 juta petani, 200.000 asosiasi petani, koperasi unit desa dan toko tani.
Meski begitu, ditengah potensi dan permintaan yang cukup tinggi, sistem ranai pasok pada sektor agrikultur tidak sedikit yang masih konvensional. Padahal pemanfaatan teknologi digital pada sektor agrikultur dapat memberikan kontibusi yang positif pada pelaku agrikultur dan meningkatkan output ekonomi hingga Rp 94.864 triliun atau US$ 6,6 miliar per tahun.
Adapun kendala yang sering terjadi pada aktivitas manual yakni; Pertama, proses persetujuan dan pembayarang yang memakan waktu lama. Kedua, penggunaan dokumen fisik berubah pada proses yang tidak efisien. Ketiga, minimnya transparansi data yang dapat memicu kerugian bisnis. Keempat, proses manual memakan waktu yang cukup besar. Kelima, kesalahan memilih vendor yang tidak sesuai.
“Atas dasar itulah gokomodo (Go-Komoditas Order Online) hadir sebagai solusi digital yang bertujuan untuk bantu mendorong sektor agrikultur termasuk sub sektor perkebunan dan komoditas Indonesia,” ungkap Comercial Corporate gokomodo, Arif Dharmawanto dalam wabinar “Pemilihan Bahan Perlindungan Tanaman yang tepat Menyikapi Dinamika Harga Pupuk dan Pestisida” yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan.
Selain itu, lanjut Arif, “guna mendukung percepatan digitalisasi rantai pasok agrikultur maka gokomodo meluncurkan e-Procurement yakni sebagai proses pengadaan barang yang pelaksanannya dilakukan secara elektronik dan berbasis web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi yang meliputi pelelangan umum secara elektronik.”
Arif menguraikan, adapun kelebihan e-Procurement yakni; Pertama, penuhi kebutuhan akses data secara real-time. Kedua, proses administrasi lebih praktis dan mudah. Ketiga, lebih mudah mendapatkan penawaran. Keempat, meningkatkan efisiensi dan transparansi. Kelima, beragam pilihan vendor terpercaya. Keenam, produk berkualitas dengan harga kompetitif. Ketujuh, pengiriman lebih cepat dan aman. Kedelapan, jaringan luas dan dalam.
“Selain itu, gokomodo juga mempunyai produk lain seperti service center, logistic, dan distribution points,” jelas Arif.
Tidak hanya itu, Arif mengungkapkan, didalam gokomodo semua serba ada. Dalam hal ini konsumen dapat mencari produk-produk yang dibutuhkan. Bahkan untuk mendorong pelaku agrikultur gokomodo juga menyediakan berbagai produk pupuk dan pestisida dengan harga yang lebih kometitif dan barang jaminan mutu.
Sehingga dalam hal ini gokomodo komit untuk mendukung pelaku agrikultur menjadi lebih baik lagi dengan meningkatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi lagi. Bahkan gokomodo juga sebagai supermarket digital perkebunan masa kini.

