Jakarta, mediaperkebunan.id – Meskipun EUDR ditunda penerapannya sampai akhir tahun 2026 tetap diperlukan upaya persiapan supaya komoditas perkebunan yang terdampak yaitu karet alam, kopi, kakao dan sawit bisa memenuhinya. GIZ sudah memfasilitasi dukungan teknis UE dalam persiapan menghadapi EUDR. Nursoliqhin dari GIZ Indonesia menyatakan hal ini pada FGD “Membangun Rantai Pasok Kelapa yang Berkelanjutan dan Bebas Deforestasi untuk Pasar Global” yang diadakan Kadin Indonesia.
Fasilitasi GIZ adalah proyek EUDR engagement yang memfasilitasi dukungan teknis EU dalam persiapan menghadapi EUDR. Studi tentang persyaratan legalitas EUDR dalam konteks Indonesia oleh IPB. Dialog multistakeholder untuk kopi, kakao, karet di Jakarta dan Tapanuli Utara, Banyuasin, Bandar Lampung, Lampung Tengah, Poso, Palu, Kapuas Hulu dan Pontianak. Memproduksi materi komunikasi factsheet, panduan praktis untuk sektor swasta dan petani, dan dalam proses video dokumentasi.
Program Global GIZ adalah SASCI+ (Sustainability and Value Added in Agricultural Supply Chains dengan pendanaan dari Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman dan beberapa negara EU untuk mentransformasi Sistim Pangan dan Pertanian. Tujuannya meningkatkan keberlanjutan beberapa komoditas terpilih di beberapa negara. Memastikan keberlanjutan meningkatkan pendapatan petani, ketahanan terhadap perubahan iklim, pertukaran pengetahuan global, sinergi antar negara.
Di Indonesia pelaksanaanya bekerjasama dengan Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan dan LH dengan dana EUR18,1 juta dari Agustus 2020- Maret 2028 dengan mitra Greening Agricultural Smallholders Supply Chains (GRASS) dan Forest and Climate Change Program (FORCLIME).
Tujuannya peningkatan sustainability rantai pasok sawit, karet, kakao dan kopi melalui peningkatan pendapatan petani, meningkatkan taraf hidup pekerja, bekerjasama dengan perusahaan dan masyarakat sipil, siap menghadapi perubahan iklim.
Cakupannya 25.960 petani yaitu 9.000 petani kopi tersebar di Jawa Barat 1000, Lampung 7.000 dan 1.000 di Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah. Kakao 9000 petani semuanya di TN Lore Lindu Sulawesi Tengah. Karet 5.360 orang di Kapuas Hulu (Kalbar) dan Kutai Timur (Kaltim). Sawit 2.300 orang di Sanggau (Kalbar) dan Kutai Timur (Kaltim).
Sudah dilatih 13.526 orang petani, 7.606 pekerja petani membaik kehidupannya terdiri 32% Wanita dan 22% pemuda. Ada 10.051 orang yang sudah bisa menanaje usaha taninya untuk menghadapi perubahan iklim, 36% merupakan perempunan dan 21% pemuda.

