New York, Mediaperkebunan.id – Jika seluruh produk asal Indonesia dikenai tarif impor sebanyak 32 persen, maka kali ini Vietnam, sesama anggota ASEAN, bakal dikenakan tarif impor sebanyak 46 persen oleh Presiden Amerika Serikat AS, Donald Trump.
Kebijakan yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) lalu itu langsung membuat Vietnam sebagai produsen kopi terbesar kedua di dunia menjadi kewalahan.
Padahal di saat yang sama, Brazil, Kolombia, dan berbagai negara produsen kopi di kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan hanya dikenai tarif bea masuk sebesar 10 persen saja oleh Presiden Trump.
Kondisi tersebut, menurut Tomas Araujo, seorang pialang di StoneX., menjadikan kebijakan tarif AS tersebut menjadi yang pertama kali diciptakan atas impor kopi sezak era kolonialisme Inggris di AS.
Dan situasi itu, ucap Tomas Araujo seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari Reuters, Jumat (4/4/2025), diprediksi bakal meningkatkan biaya dan kerumitan bagi importir dan para pebisnis pemanggang atau rasting kopi di dalam negeri AS sendiri.
“Padahal saat ini saja komoditas kopi sudah menghadapi harga yang mendekati rekor,” ucap Tomas Araujo, seorang pialang di StoneX.
Perlu diketahui bahwa bagi Vietnam merupakan pemasok kopi terbesar ketiga terbesar bagi negeri Paman Sam yang memang dikenal sebagai konsumen minuman kopi terbesar di dunia. Vietnam adalah negara yang mampu mengekspor kopi robusta, jenis kopi yang banyak digunakan untuk membuat kopi instan serta minuman dingin siap minum.
“Vietnam adalah negara besar yang menonjol. Ke depannya, situasi ini akan menjadi tantangan bagi rantai pasokan dan bagi pengguna akhir, sebab pasti akan memunculkan biaya tambahan (dalam penjualan kopi asal Vietnam – red) ,” kata Tomas Araujo.
Sementara itu, Judith Ganes yang merupakan seorang analis komoditas lunak sekaligus Presiden J Ganes Consulting, menilai tarif impor terhadap Vietnam itu termasuk besar.
Judith Ganes menghitung, tarif impor, termasuk komoditas kopi, untuk Vietnam berarti naik menjadi lebih dari $ 2.500 per ton.
Pada saat ini diketahui kalau harga minyak robusta di bursa berjangka ICE yang menjadi patokan harga di pasar global, diperdagangkan pada sekitar $ 5.390 per ton pada Kamis (3/4/2025).
“Baik industri kopi maupun produsen permen akan melobi keras agar tarif impor tersebut dihapus dari produk-produk ini. Secara pribadi, saya sendiri meragukan kalau tarif ini akan mampu diberlakukan,” kata Judith Ganes.
Namun, kata dia, kebijakan Presiden Trump tersebut akan membuat para pelaku usaha pemanggang kopi di AS mungkin harus beralih dari kopi robusta asal Vietnam ke Brasil, yang dikenal sebagai conilon.
Masalahnya, Brasil ditengarai tidak memiliki banyak robusta, karena sebagian besar produsen kopi di negeri Samba tersebut lebih suka memproduksi varietas arabika yang lebih ringan.
Karena itu, maka para pelaku usaha di AS harus bersaing untuk mendapatkan conilon atau kopi robusta Brasil dengan industri lokal di Brasil. Kemudian, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan negara-negara di Uni Eropa mungkin lebih baik membeli langsung atau memiliki pasokan kopi yang lebih besar langsung dari Vietnam dengan harga yang lebih rendah.

