Kapuas Hulu, mediaperkebunan.id – Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Pengembangan SDM Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan pentingnya penerapan prinsip keberlanjutan yang tidak hanya berfokus pada profit tetapi juga pada perlindungan manusia, khususnya perempuan dan anak-anak. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa sawit Indonesia sejatinya telah lama mengusung konsep industri ramah anak dan perempuan meski kerap disalahpahami oleh pihak luar. Menurutnya, banyak pihak di dunia internasional masih memiliki persepsi keliru terhadap industri sawit Indonesia.
“Di luar negeri, mereka sering melihat sawit dengan citra negatif karena katanya memperkerjakan anak-anak dan mengeksploitasi perempuan. Padahal, di kebun sawit Indonesia justru ada pos khusus untuk penitipan anak dan fasilitas pendidikan bagi mereka,” jelas Sumarjono pada acara Pelatihan Teknis Petani Sawit bertema “Pengembangan Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3T” yang diselenggarakan oleh POPSI pada Jumat, (31/10). Hal itu menunjukkan bahwa kesejahteraan yang dibangun oleh industri sawit bukan hanya kesejahteraan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan manusia secara menyeluruh.
Sebagai organisasi yang menaungi lebih dari 750 perusahaan sawit dari total 3.000 perusahaan di Indonesia, GAPKI terus mengembangkan inisiatif untuk memperkuat praktik kerja yang aman dan berkeadilan. Sumarjono menegaskan, pihaknya aktif mendorong sosialisasi praktik baik di lapangan agar tidak ada ruang bagi pelanggaran hak-hak pekerja.
“Pemerintah memiliki otoritas penuh untuk menindak jika terjadi pelanggaran. Sementara kami di GAPKI berperan untuk memastikan edukasi dan penerapan praktik baik terus dilakukan,” ujarnya.
Isu keselamatan kerja perempuan juga menjadi perhatian serius. Dalam industri sawit, banyak pekerja perempuan yang berperan penting di berbagai lini mulai dari pembibitan hingga panen. Namun, risiko paparan bahan kimia berbahaya terhadap kesehatan reproduksi perempuan menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi.
“Perempuan memiliki risiko kesehatan yang tinggi, terutama terkait reproduksi dan paparan pestisida. Maka itu, perlindungan dan pemantauan terus kami dorong agar tercipta lingkungan kerja yang sehat dan aman,” tegas Sumarjono.
Ia juga menyinggung pentingnya kolaborasi berbagai pihak mulai dari pemerintah, petani, asosiasi, NGO, dan masyarakat untuk memperkuat citra positif industri sawit di mata dunia. Menurutnya, sawit bukan sekadar komoditas strategis, tetapi juga instrumen pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Kita perlu memperbanyak publikasi dan visualisasi praktik baik yang sudah banyak dilakukan. Industri sawit Indonesia memiliki potensi besar, tapi kita harus lebih aktif menceritakan kisah baik itu,” ujarnya.
Sumarjono mengajak para petani dan pelaku usaha sawit untuk ikut mengambil peran dalam memperjuangkan keberlanjutan yang manusiawi. “Saya berharap bapak dan ibu petani mengambil peran ini. Jangan tunggu sampai masalah datang. Mulailah dengan kepatuhan pada regulasi, perlindungan pekerja, dan manajemen yang baik,” pesan Sumarjono menutup paparannya.

