Medan, mediaperkebunan.id – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) secara resmi membuka kegiatan Short Course of Oil Palm Plantation Management yang diikuti oleh 13 peserta dari Tanzania Agricultural Research Institute (TARI) dan Tanzania Plant Health and Pesticides Authority (TPHPA). Program ini dirancang berlangsung selama dua bulan dengan menggabungkan pembelajaran teori dan praktik langsung di lapangan.
Indra Syahputra selaku Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia GAPKI, Kepala SSPL PT Socfin Indonesia dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat kepada delegasi Tanzania yang hadir di Indonesia tepatnya di Sumatera Utara.
“Atas nama GAPKI dan sebagai bagian dari peneliti di Socfin Indonesia, saya menyampaikan selamat datang kepada seluruh delegasi dari Tanzania. Kolaborasi ini merupakan kerja sama yang sangat positif dan strategis, baik bagi Indonesia maupun Tanzania,” ujar Indra.
Indra menegaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya bersifat pelatihan satu arah, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan sumber daya genetik. Dalam kegiatan ini, para peserta akan diajak melihat langsung proses pembibitan (nursery), termasuk pengamatan terhadap material tanaman yang berasal dari Tanzania yang saat ini telah dikembangkan di Indonesia.
Selain itu, Indonesia juga telah mendatangkan tiga spesies serangga penyerbuk Elaeidobius yang berasal dari Tanzania. Kehadiran serangga penyerbuk ini dinilai sangat penting bagi industri sawit nasional, khususnya dalam menjawab tantangan fruit set yang masih dihadapi di sejumlah perkebunan.
“Program pemuliaan sawit di Indonesia sudah sangat maju dan menghasilkan banyak material dengan karakter bunga betina yang dominan. Ini penting untuk produksi, tetapi jika terlalu banyak bunga betina tanpa diimbangi bunga jantan dan populasi serangga penyerbuk yang memadai, maka produktivitas bisa terganggu. Karena itu, kolaborasi ini sangat bermanfaat bagi Indonesia,” jelasnya.
Tanzania merupakan negara dengan industri kelapa sawit yang masih berada pada tahap awal pengembangan. Kondisi ini membuka peluang besar bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pembelajaran langsung dari pengalaman Indonesia dalam membangun industri sawit secara terintegrasi.
“Bagi Tanzania, short course ini menjadi sarana pembelajaran yang sangat positif. Peserta dapat mempelajari bagaimana industri sawit Indonesia berkembang, khususnya melalui pengalaman dan praktik yang dilakukan oleh anggota GAPKI. Harapannya, pengetahuan ini dapat menjadi pondasi untuk mendorong kemajuan industri kelapa sawit di Tanzania,” ujarnya.
Selama dua bulan pelaksanaan, peserta dari TARI dan TPHPA akan mendapatkan pembekalan materi yang lengkap. Selain itu, peserta juga akan terlibat langsung dalam praktik lapangan di perkebunan dan fasilitas riset sehingga dapat memahami penerapan teknologi dan manajemen secara nyata.
Menutup sambutannya, Indra menegaskan komitmen GAPKI untuk terus membuka ruang kolaborasi internasional yang saling menguntungkan. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis peserta, tetapi juga memperkuat jejaring kerja sama riset dan pengembangan kelapa sawit antara Indonesia dan Tanzania.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap terbangun kolaborasi jangka panjang. GAPKI dengan senang hati siap bekerja bersama dan mendukung pengembangan industri sawit Tanzania ke depan,” pungkasnya.

