Jakarta, mediaperkebunan.id – Melalui sebuah tulisan, Gabungan Produsen Gula Indonesia (GAPGINDO) membagikan gagasannya bertajuk “Merajut Ulang Kemandirian Pergulaan Nasional: ‘Kini Saatnya; atau Tidak Akan Pernah Lagi'”.
Tulisan ini berangkat dari pergulaan Indonesia kini dan dulu menyajikan fenomena yang jauh berbeda. Hal tersebut terlihat dari status Indonesia dalam hal ekspor dan impor zaman dulu dan kini. Berikut tulisan selengkapnya yang mediaperkebunan.id terima dari GAPGINDO.
Makro: Indonesia, Balada Pengimpor Terbesar Gula Dunia
Pada zaman kolonial, Indonesia adalah negeri pengekspor gula nomor lima terbesar di dunia. Indonesia mendapat status tersebut melalui kebijakan tanam paksa oleh Belanda yang menjadi penjajah saat itu.
Namun, fakta tersebut kemudian berbalik drastis. Data Statista menunjukkan Indonesia adalah negeri pengimpor gula terbesar di dunia. Bahkan, Indonesia mengimpor lebih banyak dari Cina yang terkenal sebagai negeri berpenduduk terpadat dunia.
Data Statistik menunjukkan, pada 2022/2023, Indonesia mengimpor sekitar 5,8 juta metrik ton. Sedangkan Cina mengimpor sekitar 4,4 juta metrik ton. Maka, swasembada gula adalah “jalan pulang” bagi Indonesia, untuk menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Swasembada gula bahkan lebih dari sekadar kemandirian Indonesia. Krisis terbaru antara lain akibat pandemi Covid-19, perubahan iklim, serta perang Rusia dan Ukraina membuktikan, ketergantungan pada produk negara lain membuat Indonesia rentan terimbas kondisi global. Indonesia dan ASEAN, harus mengurangi ketergantungan pada impor untuk meminimalisasi dampak fluktuasi pasar global terhadap keamanan pangan.
Kini, tantangan mengadang Indonesia saat ingin memulihkan kejayaan pergulaan di negeri ini. Padahal, komoditas tersebut termasuk penting di negeri ini. Meski pola konsumsi di Indonesia mengalami perubahan.
Berikut ini GAPGINDO paparkan mengenai kondisi industri pergulaan nasional Indonesia kemudian tantangan yang harus negeri hadapi.
Kondisi di Indonesia
Kebutuhan gula nasional terus meningkat dari nilai total 3,2 juta ton pada 2016, menjadi 7,3 juta ton pada 2023. Angka tersebut termasuk kebutuhan konsumsi dan kebutuhan bahan baku industri.
Produksi dalam negeri pada periode 2016-2023 relatif stagnan dan cenderung menurun, yaitu hanya sekitar 2,2 juta ton hingga 2,3 ton. Kekurangan gula konsumsi nasional kemudian terpenuhi oleh impor.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, hingga pertengahan 2023 masih terdapat gap kebutuhan gula sekitar 850 ribu ton untuk konsumsi dan 3,27 juta ton untuk rafinasi.
Lonjakan kebutuhan tersebut terjadi karena peningkatan konsumsi rumah tangga seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, pendapatan masyarakat dan tumbuhnya industri makanan dan minuman yang diproyeksi meningkat 5-7 persen per tahunnya.

Pada Juli 2023, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebutkan, kebutuhan gula nasional secara umum adalah 7,3 juta ton. Dari jumlah itu, kebutuhan gula konsumsi sebanyak 3,2 juta ton dan kebutuhan gula industri mencapai 4,1 juta ton. Sementara produksi nasional masih sangat rendah, yaitu 2,35 juta ton.

Sumber: GAPGINDO
Salah satu pemasok kebutuhan pergulaan di Indonesia adalah dari pabrik-pabrik berbasis tebu baik yang kelolaan BUMN maupun swasta. Pabrik-pabrik tersebut menghasilkan antara lain gula konsumsi berupa gula kristal putih (GKP).
Hal ini berbeda dengan kebutuhan untuk industri yang 100 persen mengandalkan impor. Mereka mengimpor bahan baku dalam bentuk mentah (raw sugar) untuk kemudian mereka olah menjadi Gula Kristal Rafinasi (GKR).
Sementara itu, luas area perkebunan tebu pada periode 2016-2023 juga relatif stagnan yaitu sekitar 500 ribuan hektare. Produktivitas tanaman tebu di Indonesia juga bertahan pada kisaran 70 ton per hektare. Ini terbilang rendah dari negara-negara lain yang memiliki tingkat produktivitas mencapai 100 ton hingga 120 ton per hektare.
Rendemen tebu di Indonesia juga masih rendah, yaitu rata-rata sekitar 7 persen. Sementara rendemen tebu di negara produsen lain rata-rata mencapai antara 10-12 persen.
Saat ini, produsen gula konsumsi terdiri dari 42 pabrik BUMN dan 19 pabrik milik swasta. Pabrik milik BUMN memiliki kapasitas giling rata-rata 3.600 – 4.000 ton tebu per hari. Sedangkan pabrik milik swasta sebagian besar berkapasitas giling terpasang antara 6.000 – 15.000 ton tebu per hari.
Sementara pabrik untuk memenuhi kebutuhan industri dikenal dengan sebutan pabrik gula rafinasi. Hingga 2023, ada 11 pabrik rafinasi yang semuanya kelolaan swasta. Kinerja dari pabrik BUMN masih beragam, sehingga mutu yang mereka hasilkan pun beragam. Sementara pabrik milik swasta umumnya menggunakan teknologi yang lebih modern dan efisien.
Pada artikel selanjutnya, GAPGINDO akan menjelaskan tantangan lebih lanjut yang harus industri pergulaan Indonesia hadapi dan sejumlah potensi yang berpeluang untuk memandirikan dan memakmurkan Indonesia.
Pembahasan berikutnya akan mencakup bahasan tentang tantangan pabrik gula berbasis tebu yang terdiri dari:
- peningkatan produksi tebu;
- peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur fisik;
- mengulik kebijakan pemerintah;
- peluang: menyuap rawa dan tanah tandus.
Kemudian akan ada pembahasan mengenai bagaimana peran pemerintah Indonesia dalam menciptkan ekosistem yang kondusif. Bagaimana sistem di Indonesia merambah sistem perbibitan nasional.
Apakah dengan percepatan sistem permbibitan, tebu yang Indonesia hasilkan akan berkualitas tinggi? Simak tulisan selengkapnya pada artikel selanjutnya.

