Jakarta, mediaperkebunan.id – Andreas Setiadi dari Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) dalam webinar bertajuk “Akselerasi Hilirisasi Kakao untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional” yang diselenggarakan Media Perkebunan bersama Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan (P3PI) pada 27 Agustus 2025, menyampaikan paparan mengenai kondisi kakao nasional, tantangan yang dihadapi, serta peluang yang bisa dikembangkan.
Indonesia pernah menempati posisi ke-3 produsen biji kakao dunia. Namun, posisi ini menurun drastis, hingga pada 2023 Indonesia berada di urutan ke-7, sebelum naik ke posisi ke-4 pada 2024. Menurut ASKINDO, produksi biji kakao Indonesia pada periode 2022/2023 hanya 160 ribu ton, dengan pangsa pasar global sekitar 3,16%.
“Produksi biji kakao kita masih jauh dari kebutuhan kakao dan cokelat global, padahal permintaan terus meningkat 2-3% per tahun,” ujar Andreas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah ASKINDO menunjukkan tren ekspor-impor kakao Indonesia fluktuatif. Produk kakao yang diekspor meliputi biji kakao, pasta, butter, bubuk, bungkil, hingga produk jadi seperti kembang gula dan cokelat artisan. Nilai ekspor kakao olahan tahun 2024 mencapai lebih dari USD 1,6 miliar, meningkat dari capaian tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata di atas USD 1 miliar.
Menurut Andreas, “Nilai tambah terbesar sebenarnya ada di produk hilir. Cokelat artisan, misalnya, mampu memberikan margin hingga 6–10 kali lipat dibandingkan biji kakao.”
Luas areal kakao Indonesia tahun 2024 tercatat 1,215 juta hektare. Dari jumlah itu, 99% dimiliki pekebun rakyat dengan kepemilikan lahan rata-rata kecil. Sentra produksi tersebar di Sulawesi, Sumatera, hingga Nusa Tenggara Timur.
Sayangnya, banyak kebun kakao mengalami masalah klasik: tanaman tua, produktivitas rendah, serta serangan hama penyakit. Regenerasi petani yang rendah juga menjadi tantangan serius.
Indonesia memiliki 11 industri pengolahan kakao dengan kapasitas lebih dari 700 ribu ton, namun tingkat utilisasinya baru 40–50%. Industri ini menyerap sekitar 2.500 tenaga kerja. Selain itu, industri cokelat artisan menunjukkan pertumbuhan pesat. Dari hanya 5 perusahaan pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 47 perusahaan pada 2024, dengan kapasitas 1.742 ton per tahun.
Keunggulan industri cokelat artisan terletak pada keberlanjutan (sustainability) dan keterlacakan (traceability), karena perusahaan langsung membina petani di daerah penghasil. Namun, tantangan tetap ada. “Bahan baku biji kakao berkualitas masih terbatas, sementara harga kakao terus meningkat,” tegas Andreas.
Tantangan Utama Sektor Kakao
ASKINDO menekankan sejumlah masalah besar yang dihadapi sektor kakao:
- Menurunnya daya saing ekspor akibat tarif masuk di negara tujuan.
- Keterbatasan benih berkualitas serta sistem distribusi yang belum efisien.
- Kurangnya regenerasi petani dan minimnya tenaga penyuluh khusus kakao.
- Alih fungsi lahan perkebunan kakao menjadi komoditas lain.
- Serangan hama penyakit yang mengurangi produktivitas.
- Regulasi internasional seperti EUDR yang harus segera diantisipasi.
Menurut ASKINDO, pemerintah perlu memperkuat dukungan dalam implementasi kebijakan. ASKINDO menyampaikan beberapa rekomendasi strategis:
- Memprioritaskan produk kakao olahan dan cokelat dalam negosiasi dagang internasional.
- Meningkatkan penyediaan bahan tanam berkualitas melalui pemuliaan dan sertifikasi.
- Menguatkan kualitas SDM penyuluh dan pendamping khusus kakao.
- Mendukung cokelat artisan yang berbasis keberlanjutan.
- Mengembangkan konsep “Indonesian Variety Chocolates”, yaitu mempromosikan cokelat khas dari berbagai daerah dengan cita rasa unik.
“Setiap daerah mempunyai produk kakao dengan rasa khas tersendiri. Indonesia bisa membangun standard coklat nasional yang merepresentasikan kekayaan rasa tersebut,” kata Andreas.
Kakao Indonesia menghadapi dilema antara tantangan besar dan peluang emas. Hilirisasi dan penguatan industri dalam negeri menjadi jalan keluar untuk meningkatkan daya saing global. Dukungan kebijakan pemerintah, sinergi multipihak, dan komitmen petani serta pelaku industri menjadi kunci keberhasilan.
Seperti ditegaskan Andreas, “Upaya peningkatan jumlah dan kualitas biji kakao Indonesia harus dibarengi dengan komunikasi nasional maupun internasional tentang keunggulan rasa khas kakao Indonesia.”
Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya dapat merebut kembali posisinya sebagai produsen utama dunia, tetapi juga menjadi pusat cokelat dengan keunikan rasa yang tak tertandingi.

