T-POMI
2023, 26 November
Share berita:

Yogoyakarta, mediaperkebunan.id – Forum Sawit Indonesia 2023 (FoSI-2023) Kembali di Gelar di Graha INSTIPER dengan tema ‘Membangun Daya Saing Perkebunan Kelapa Sawit Melalui Ekosistem Bisnis Sinergis’. Forum ini akan melakukan pemetaan dan perumusan kebijakan untuk membangun ekosistem bisnis di perkebunan kelapa sawit melalui implementasi dan efektifitas kebijakan yang ada, dan atau usulan kebijakan baru yang mampu memberikan solusi masalah-masalah dan tantangan saat ini dan kedepan.

Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit INSTIPER (PSKS-INSTIPER) Dr Purwadi mengatakan, membangun keberlanjutan sawit menuju Sawit Indonesia 2045 dapat terwujud melalui kemampuan Indonesia untuk membangun daya saing produk, dari produk kompetitor (minyak nabati) dan atau produk-produk substitusinya serta minyak sawit dari negara lain.

“Daya saing sistem industri harus dipandang sebagai sistem proses industri ‘end to end’, melalui sistem proses yang efisien dengan hasil akhir harga pokok yang kompetitif di pasar global. Dalam membangun daya saing nasional dari satu komoditas dari suatu negara untuk bersaing di pasar global antar negara, maka sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan dalam dalam eksosistem bisnis ‘baik bersifat promosi dan atau proteksi’,” kata Purwadi saat pembukaan FoSI 2023 di Graha INSTIPER Maguwoharjo Sleman Yogyakarta, Kamis, 23/11/2023.

Menurut Purwadi, untuk industri kelapa sawit, maka efisiensi sistem industri dimulai dari keragaan industri biomassnya, yaitu daya saing di tingkat “kebun (on farm)”. Beberapa pihak yang perlu kolaborasi dan sinergi dalam subsistem kebun yaitu (a) Industri sarana produksi, (b) Perkebunan (besar dan rakyat), dan (c) Pabrik Kelapa Sawit, (d) Masyarakat sekitar kebun, (e) Pemerintah Daerah.

“Bagaimanapun ekosistem bisnis yang terkait kebijakan-kebijakan secara langsung maupun secara tidak langsung akan mempengaruhi keragaaan daya saing di tingkat kebun, industri hilir dan perdagangannya. Kolaborasi dalam format kemitraan maupun bentuk kerjasama lainnya dalam membangun sistem yang sinergis menjadi pra-syarat untuk membangun daya saing,” kata Purwadi.

Baca Juga:  Sawit dan Uni Eropa

Purwadi menjelaskan, perkembangan produksi dan produktivitas perkebunan kelapa sawit secara nasional pada beberapa tahun terakhir cenderung stagnan dengan tren menurun. Kondisi ini perlu memperoleh perhatian bersama karena pada akhirnya akan menurunkan daya saing.

“Ada 2 pelaku industri di tingkat perkebunan, yaitu perkebunan rakyat dan perkebunan besar. Kolaborasi dan kerjasama dalam format kemitraan maupun bentuk lain sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kerjasama yang sinergis,” ungkap Purwadi.

Tantangan perkebunan sawit rakyat, menurutnya, adalah peningkatan produktivitas dan harga sarana produksi dan harga TBS yang kompetitif dan stabil, dalam ekosistem bisnis saat ini dan kedepan, terkait: pengambangan kapasitas pekebun meliputi: (1) Kepastian dan Penyelesaian Legalitas lahan, (2) Peningkatan akses modal dan sarana dan prasarana, (3) Pengetahuan dan keterampilan petani, (4) Pengembangan kelembagaan, dan (5) Kerjasama strategis dan sinergis, baik format kemitraan maupun format kerjasama lainnya pada bisnis, kemitraan sosial maupun kemitraan dengan pemerintah.

“Sedangkan tantangan di perkebunan besar terkait reengineering kapasitas pengembangan teknologi dan SDM kompeten serta harmonisasi kemitraan sosial dan ketaatan regulasi, meliputi: (1) Legalitas lahan terkait kepastian hukum HGU, (2) Produktivitas yang stagnan. (3) Harga pokok kebun yang terus meningkat, (4) Masalah sosial dengan masyarakat, (%) Kepastian regulasi dan kepatuhan, dan (5) Isu-isu geopolitik komoditas terkait sustainabiliti dan deforestasi,” jelas Purwadi.

Purwadi pun menerangkan, sejauhmana kebijakan-kebijakan saat ini berlangsung dan mampu mendorong eksosistem bisnis di perkebunan kelapa sawit. Bagaimanapun upaya peningkatan produksi untuk membangun efisiensi menjadi kurang efektif jika iklim bisnis dan ekosistem bisnis kurang mendukung.

Beberapa pelaku lansung dilapangan merasakan industri sawit saat ini ibarat cerita “angsa bertelur emas” yang jika para pihak kurang peduli, kurang saling mendukung maka industri ini akan semakin tertekan dan bisa tidak sustainable.

Baca Juga:  BOOTH BPDPKS DI TEI 37 TAMPILKAN 1000 MANFAAT SAWIT

“Tantangan-tantangan diatas harus dapat diselesaikan agar keragaan kebun dapat terus ditingkatkan, baik perkebunan rakyat dan perkebunan besar, industri sawit menjadi “sustainable”, kesejahteraan petani terus meningkat, masyarakat sekitar perkebunan maupun pembangunan wilayah dan nasional terus berkembang,” pungkas Purwadi. YIN