Sukamara, mediaperkebunan.id – Kunjungan lapangan (field trip) dalam rangkaian Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 menghadirkan pembelajaran nyata tentang inovasi dan keberlanjutan di industri sawit. Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah PT Sukses Karya Mandiri (SKM), yang dinilai berhasil mengintegrasikan pengolahan inti sawit (kernel) dengan pemanfaatan energi terbarukan berbasis biogas untuk mendukung operasional pabrik secara mandiri.
Dalam sesi field trip pada hari Kamis (30/04/2026), peserta diajak melihat langsung proses pengolahan palm kernel hingga menjadi crude palm kernel oil (CPKO) dan palm kernel expeller (PKE). M. Faozy Saputra, Asisten Proses Kernel Crushing Plant (KCP), menjelaskan bahwa proses dimulai dari penerimaan bahan baku dengan standar mutu tertentu.
“Palm kernel yang kami terima memiliki standar kadar air 8 persen dan kotoran 8 persen. Setelah itu ditimbang dan disimpan sementara di kernel bunker dengan kapasitas 750 ton sebelum masuk ke proses pengolahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelum diproses lebih lanjut, kernel akan melalui tahap pemisahan menggunakan magnetik untuk menghilangkan benda asing seperti besi, kawat, maupun batu. Tahap ini penting untuk menjaga kualitas produk sekaligus melindungi mesin produksi.
Selanjutnya, kernel dipanaskan untuk menurunkan kadar moisture dari 8 persen menjadi sekitar 5 persen. Setelah itu, dilakukan proses pengepresan dua tahap untuk menghasilkan minyak inti sawit (PKO) dan bungkil (PKE).
“Dari proses ini, kita menghasilkan dua produk utama, yaitu PKO sebagai minyak dan PKE sebagai produk samping berupa bungkil,” ujarnya.

Menariknya, PT SKM tidak hanya berhenti pada produksi konvensional. Perusahaan juga tengah menyiapkan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah PKE melalui pengolahan menjadi maggot (larva Black Soldier Fly/BSF). Nantinya, maggot tersebut akan diolah menjadi tepung dan minyak sebagai bahan pakan ternak.
“Ke depan, PKE akan kami manfaatkan sebagai bahan baku maggot. Larvanya akan diolah menjadi tepung dan minyak, sehingga nilai ekonominya bisa lebih tinggi dibandingkan hanya dijual sebagai bungkil,” tambah Faozy.
Saat ini, PKE yang dihasilkan sebagian besar masih diekspor sebagai bahan pakan ternak dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram. Namun, dengan rencana hilirisasi tersebut, PT SKM optimistis dapat meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan.
Selain inovasi di sisi produk, PT SKM juga menunjukkan komitmen kuat terhadap aspek keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah cair sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi energi terbarukan.

Raihan, Staff Biogas PT SKM, menjelaskan bahwa fasilitas biogas plant yang dimiliki perusahaan telah beroperasi sejak November 2023 dengan kapasitas gas engine sebesar 2 megawatt.
“Biogas plant kami memanfaatkan POME untuk menghasilkan gas metana (CH4) yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar gas engine untuk menghasilkan listrik,” ungkapnya.
Prosesnya dimulai dari pendinginan POME di cooling pond sebelum masuk ke mixing tank untuk dicampur dengan bakteri aktif. Selanjutnya, limbah cair tersebut masuk ke biodigester berkapasitas 150.000 meter kubik untuk menghasilkan gas metana.
“Gas yang dihasilkan kemudian dibersihkan melalui scrubber untuk menurunkan kadar hidrogen sulfida, lalu didinginkan dan dikeringkan sebelum digunakan sebagai bahan bakar gas engine,” jelas Raihan.
Listrik yang dihasilkan dari proses tersebut digunakan untuk mendukung operasional pabrik, khususnya KCP, serta kebutuhan listrik di area estate dan mill.
“Kami sudah bisa mensuplai listrik untuk kebutuhan KCP dan sebagian operasional lainnya. Bahkan saat tidak ada proses produksi, listrik tetap dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik,” tambahnya.
Pemanfaatan biogas ini menjadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, khususnya solar, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dari limbah cair sawit.
General Manager PT SKM menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengembangkan industri sawit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Kami terus berinovasi untuk mengurangi penggunaan solar dengan memanfaatkan biogas sebagai sumber energi alternatif, khususnya untuk operasional KCP,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kunjungan peserta TKS 2026 yang dinilai memberikan semangat dan masukan positif bagi pengembangan perusahaan ke depan. “Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dari GAPKI dan Media Perkebunan. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi yang lebih ramah lingkungan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa saat ini PT SKM menjadi salah satu pionir pemanfaatan biogas untuk KCP di Kalimantan Tengah, dan ke depan perusahaan berencana memperluas implementasi teknologi tersebut. “Di Kalimantan Tengah, kami termasuk yang sudah berjalan. Tahun ini direncanakan akan dibangun lagi di wilayah Seruyan, tepatnya di PT Gawi Bahandep,” tambahnya.
Selain fokus pada efisiensi energi, PT SKM juga aktif mendukung program pemerintah, termasuk ketahanan pangan dan pengembangan peternakan melalui program desa binaan yang telah berjalan selama tiga tahun.
Melalui field trip ini, peserta TKS 2026 mendapatkan gambaran nyata bahwa integrasi antara efisiensi operasional, inovasi teknologi, dan prinsip keberlanjutan bukan sekadar konsep, tetapi sudah dapat diimplementasikan secara konkret di lapangan.
PT SKM menjadi contoh bahwa industri kelapa sawit tidak hanya mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan energi terbarukan dan pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

