Tanah Gambus, mediaperkebunan.id – Selain mengunjungi Kebun Laras PTPN IV Regional 2, peserta field trip 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026 juga berkesempatan mengunjungi Kebun Tanah Gambus milik PT Socfin Indonesia (Socfindo). Kunjungan ini menjadi salah satu agenda penting untuk melihat secara langsung integrasi riset, produksi benih, hingga praktik lapangan dalam pengendalian penyakit Ganoderma.
Peserta yang terdiri dari peneliti, planters, praktisi, dan akademisi diajak menelusuri rangkaian proses pengelolaan Ganoderma berbasis sains dan standar operasional ketat. Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Laboratorium Patologi dan Nursery untuk menyaksikan proses screening penyakit serta metode uji ketahanan tanaman terhadap Ganoderma.
Manager Socfindo Seed Production & Laboratories (SSPL), Dadang Afandi menjelaskan bahwa laboratorium patologi tersebut berperan penting dalam memastikan bahwa material tanam yang dikembangkan benar-benar memiliki ketahanan berbasis genetik terhadap Ganoderma.
“Laboratorium patologi ini melakukan screening terhadap bahan genetik dan material tanam untuk mencari tanaman yang toleran terhadap penyakit Ganoderma. Semua proses dilakukan secara standar dan terkontrol untuk memastikan bahwa ketahanan yang dimiliki benar-benar karena faktor genetik,” jelas Dadang.
Di laboratorium yang dibangun sejak 2006 melalui kolaborasi dengan lembaga riset asal Prancis, CIRAD, proses pengujian dilakukan dengan metode yang telah distandarkan. Setiap tahapan pengujian dirancang untuk mengeliminasi faktor eksternal sehingga hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan respons genetik tanaman.

Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia sekaligus Kepala SSPL PT Socfin Indonesia, Ir. Indra Syahputra, M.P., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta ISGANO 2026.
“Atas nama Socfindo, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Media Perkebunan, para planters, dan seluruh peserta yang hadir. Laboratorium ini dibangun tahun 2006 atas kolaborasi dengan CIRAD. Sejak saat itu, kami telah memiliki metode yang benar-benar standar. Jadi jika suatu material dinyatakan tahan Ganoderma, itu benar-benar karena alasan genetik,” ujar Indra.
Ia menegaskan bahwa seluruh faktor yang mempengaruhi ketahanan tanaman telah distandarkan dalam sistem pengujian. Dengan demikian, varietas yang dilepas telah melalui tahapan seleksi ketat dan pembuktian berulang.
“Ini adalah proses sharing. Bukan karena kami lebih baik, tetapi bagaimana kita bisa saling belajar dan melakukan mutual improvement untuk kemajuan industri sawit bersama,” tambahnya.
Setelah kunjungan laboratorium, peserta diajak melihat langsung proses screening di nursery termasuk pengamatan tanaman yang tengah diuji ketahanannya. Di lokasi ini, peserta dapat melihat perbedaan respons tanaman terhadap infeksi.
Kegiatan berlanjut ke lapangan, di mana Socfindo memperlihatkan penerapan kultur teknis terbaik (best agronomic practices) untuk tanaman tua yang terserang Ganoderma. Salah satu demonstrasi yang menarik perhatian peserta adalah proses chipping dan pembongkaran pohon serta tunggul akar dari tanaman yang terinfeksi.

Proses ini menjadi bagian penting dalam strategi sanitasi kebun untuk meminimalkan sumber inokulum di lapangan. Dengan pembongkaran dan penghancuran jaringan terinfeksi, peluang penyebaran patogen ke tanaman sehat dapat ditekan.
Tidak hanya itu, peserta juga diajak melihat performa material resistance terhadap Ganoderma yang telah memasuki fase panen pertama. Tanaman-tanaman tersebut menunjukkan pertumbuhan dan produktivitas yang baik meski berada di lingkungan dengan tekanan penyakit yang tinggi.
Sebagai penutup rangkaian kunjungan, Socfindo menampilkan praktik replanting yang dirancang untuk memperkecil peluang infeksi Ganoderma pada siklus tanam berikutnya. Pendekatan ini memadukan penggunaan material tanam tahan, sanitasi lahan yang optimal, serta penerapan kultur teknis yang disiplin.
Field trip ke Kebun Tanah Gambus ini memperlihatkan bahwa pengendalian Ganoderma tidak dapat dilakukan dengan satu pendekatan tunggal. Penggabungan antara riset genetika, pengujian laboratorium, manajemen nursery, praktik kultur teknis, hingga strategi replanting menjadi kunci dalam membangun sistem pengendalian yang komprehensif. Kolaborasi antara peneliti, produsen benih, dan praktisi kebun menjadi pondasi penting dalam menghadapi tantangan Ganoderma yang masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan industri kelapa sawit.

