6 June, 2020

Akhir-akhir ini viral tentang seorang ibu bernama RMS yang mencuri Tandan Buah Segar (TBS) di Kebun PTPN V Sei Rokan, Desa Tandun Barat Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Ibu ini tertangkap oleh satpam kebun dan diserahkan pada polisi. Karena alasan kemanusiaan ibu ini tidak ditahan tetapi kasusnya dilanjutkan.

Di Pengadilan Negeri Pasirpangairan Rohul ibu ini divonis bersalah dihukum 7 hari tetapi tidak usah menjalani hukuman dalam masa percobaan 2 bulan. Berita ini menjadi viral baik di media mainstream nasional, media on line, media lokal bahkan di medsos berbagai pesohor di negeri ini.

Dengan alasan mencuri karena tidak punya uang untuk memberi beras, ibu yang disebut miskin ini segera menuai simpati baik dari banyak pihak. PTPN V sebagai BUMN disebut-sebut hanya melihat dari sisi hukum tetapi tidak melihat dari sisi kemanusiaan.

Dalam kunjungan anggota DPRD Rohul ke kediamannya terungkap bahwa Ibu ini sudah tiga tahun tinggal di Desa Kota Tandun tetapi tidak terdata sebagai penduduk desa karena belum pernah mengurus perpindahan dari tempat tinggal sebelumnya. Karena itu dia tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah.

Sekretaris Desa Kota Tandun, Agusnimar menyatakan pihaknya sudah berkali-kali minta mereka menyelesaikan masalah kependudukan ini tetapi dengan berbagai alasan tidak bisa dipenuhi. Mereka sudah 3 tahun tinggal di Desa Kota Tandun tetapi sering berpindah tempat dan ditempat terakhir baru 3 bulan. Dalam kasus ini pihak desa juga turun tangan meminta pada polisi untuk tidak menahan.

Ibu ini menurut Sekdes kalau dilihat dari ukuran penduduk desa tidak masuk kategori miskin tetapi tidak kaya juga jadi termasuk golongan menengah. Hal ini dibuktikan dari kepemilikan 2 sepeda motor, hp android, televisi, parabola dan magic com. Keluarga ini kalau untuk sekedar makan pasti bisa memenuhi, jadi tidak mungkin mencuri untuk membeli beras.

Dalam kesempatan itu RMS mohon maaf kepada Desa Kota Tandun, PTPN V dan seluruh masyarakat Rohul dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Alasan mencuri untuk membeli beras merupakan pembelaan diri supaya tidak ditahan. Dia mengakui juga ini bukan pertama kalinya mencuri TBS di kebun PTPN V.

Pada saat kejadian RMS bersama 2 orang lainnya sengaja masuk kebun PTPN V berniat mencuri dengan membawa egrek. Diketahui satpam tetapi 2 temannya berhasil lari, tinggal RMS yang ditangkap.

Daniel Triandio , GM PTPN V di Rohul menyatakan kejadian pencurian TBS sudah sering terjadi dan bisa ditangani, hanya sekarang menjadi viral. PTPN V selalu melibatkan masyarakat untuk pekerjaan di kebun seperti panen, membabat lahan, mengutip brondolan. Mungkin karena pekerjaan kasar dengan penghasilan minim maka warga nekad mencuri.

Jatmiko K Santosa, Direktur PTPN V dalam satu kesempatan menyatakan bahwa pencurian itu bukan terjadi secara tiba-tiba tetapi sudah direncanakan sebelumnya. Terbukti bahwa yang bersangkutan masuk ke kebun PTPN V berombongan membawa egrek.

PTPN V sendiri selalu berusaha supaya kehadirannya bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Buktinya ketika pandemi Covid 19 ini sudah membagikan 2000 APD pada petugas kesehatan di Riau dan membagikan sembako sebanyak 8000 paket pada warga yang terdampak. Salah satunya di Desa Kota Tandun yang dikoordinir oleh kelapa desa.

Ketika dikunjungi Jatmiko, RMS minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Demikian juga JND suaminya (ada pemberitaan yang menyatakan dia janda terbukti bukan), JND berjanji akan membina istrinya. JND sendiri berkerja serabutan. Pada waktu kejadian pencurian JND sedang bekerja dan bermalam di kebun sawit orang lain, sedang beras dirumah tinggal sedikit. Karena itu untuk membeli beras maka RMS mencuri TBS.

Direktur PTPN 5 memberikan bantuan berupa uang dan minta supaya tidak mengulangi perbuatannya Bahkan menawari pekerjaan bagi RMS dan JND di PTPN V dengan harapan yang berangkutan tidak lagi melakukan perbuatan yang melawan hukum tersebut.

(Visited 836 times, 1 visits today)