Bali, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit Indonesia menunjukkan kinerja solid sepanjang Januari-Agustus 2025. Hal ini disampaikan dalam 21st Indonesia Palm Oil Conference and 2025 Price Outlook (IPOC 2025) yang digelar di Bali. Para pemangku kepentingan menyoroti peningkatan produksi, konsumsi, serta ekspor, sekaligus menegaskan perlunya strategi menghadapi perubahan struktur permintaan global.
Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fadhil Hasan, menyampaikan bahwa produksi sawit nasional meningkat 13% dibanding periode yang sama tahun 2024, sementara konsumsi domestik naik 5%. Namun demikian, ia mencatat adanya ketidakseimbangan dalam pola ekspor.
“Beberapa pasar utama seperti Uni Eropa dan India mengalami penurunan, mencerminkan pasar global yang semakin terfragmentasi akibat kebijakan, tarif, dan regulasi keberlanjutan,” ujar Fadhil dalam paparannya.
Fadhil menambahkan bahwa ekspor sawit Indonesia justru mengalami pemulihan signifikan, tumbuh 15% pada Januari-Agustus 2025. Penguatan ekspor terjadi terutama ke Rusia, Malaysia, dan Bangladesh.
Meski demikian, melemahnya ekspor ke Uni Eropa dan India tetap menjadi perhatian karena erat kaitannya dengan isu keberlanjutan dan regulasi deforestasi yang semakin ketat. “Industri sawit kini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks. Selain dinamika pasar, standar keberlanjutan di negara tujuan makin menentukan akses pasar kita,” jelasnya.
Tiongkok, salah satu pasar terbesar minyak sawit dunia, tengah mengalami perubahan struktur permintaan. Fadhil menyebut bahwa perusahaan-perusahaan besar di sana kini semakin mendorong penggunaan minyak sawit bersertifikat, terutama RSPO, meskipun belum menjadi aturan wajib pemerintah.
Perubahan preferensi tersebut dipicu oleh tuntutan rantai pasok global dan kesadaran konsumen terhadap produk ramah lingkungan. Akibatnya, muncul dua segmen baru di pasar Tiongkok: pembeli sensitif harga serta pembeli premium yang memprioritaskan produk bersertifikat.
Menurut Fadhil, sertifikasi menambah biaya sekitar USD10 – 15 per ton, namun memberi peluang bagi produsen yang mampu memenuhi standar tersebut. Ia menegaskan bahwa pengakuan lebih luas terhadap sistem sertifikasi dalam negeri seperti ISPO akan memperkuat hubungan dagang Indonesia – Tiongkok.

