Jakarta, mediaperkebunan.id – Dilaporkan oleh barchart.com, harga kakao dunia mulai pulih dan kembali bergerak naik pada awal pekan ini setelah sempat tertekan selama dua bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh aksi penutupan posisi jual (short covering) di bursa New York dan London seiring munculnya sinyal perlambatan ekspor dari Pantai Gading yang merupakan produsen kakao terbesar di dunia.
Menurut data pemerintah Pantai Gading, sepanjang 1–19 Oktober 2025 petani di negara tersebut mengirim 133.209 ton kakao ke pelabuhan. Pengiriman turun sebesar 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 192.804 ton. Penurunan ekspor ini menjadi salah satu faktor yang mendorong harga berbalik naik setelah sebelumnya anjlok ke level terendah dalam hampir dua tahun.
Pasokan Kakao Masih Melimpah, Permintaan Lemah
Meskipun ada sinyal harga kakao dunia mulai pulih, pasar kakao global masih dibayangi kelebihan pasokan dan permintaan yang melambat. Dalam dua bulan terakhir, harga kakao di New York menyentuh titik terendah dalam 20 bulan. Sementara di London turun ke level terendah dalam 20,5 bulan.
Kelebihan pasokan ini diperkuat oleh perkiraan panen yang baik di Afrika Barat. Produsen cokelat Mondelez melaporkan bahwa jumlah buah kakao di kawasan tersebut 7% lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir dan jauh lebih baik dibanding musim sebelumnya. Sementara itu panen utama di Pantai Gading pun baru dimulai dan para petani optimistis dengan hasilnya.
Selain itu, kenaikan harga kakao dan biaya produksi cokelat mulai menekan permintaan global. Data dari lembaga riset Circana menunjukkan penjualan permen cokelat di Amerika Utara turun lebih dari 21% dalam 13 minggu hingga 7 September dibandingkan tahun lalu.
ICCO Prediksi Produksi Kakao Global Akan Pulih
Menurut Organisasi Kakao Internasional (ICCO), dunia masih mengalami defisit kakao terbesar dalam 60 tahun pada musim 2023/2024 yakni sebesar 494.000 ton. Produksi global turun 13,1% menjadi 4,38 juta ton, sementara rasio stok terhadap pengolahan turun ke 27% level terendah dalam 46 tahun.
Namun, ICCO memperkirakan kondisi akan berbalik pada musim 2024/2025. Produksi global diproyeksikan naik 7,8% menjadi 4,84 juta ton dengan potensi surplus 142.000 ton yang bisa menjadi surplus pertama dalam empat tahun terakhir.
Sementara itu, Asosiasi Kakao di Nigeria memperkirakan produksi kakao 2025/2026 akan turun 11% menjadi sekitar 305.000 ton akibat cuaca dan faktor budidaya. Meski begitu, ekspor kakao Nigeria pada Agustus justru naik 15% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 17.239 ton.

