Medan, mediaperkebunan.id – Produktivitas kelapa sawit Indonesia dinilai masih memiliki ruang peningkatan yang sangat besar, khususnya melalui perbaikan efisiensi penyerbukan dan strategi pemilihan bahan tanaman. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Fizrul Indra Lubis, S.P., M.P., Head of Sulung Research Station PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, dalam pemaparannya berjudul “Mix it, Max it!: Memaksimalkan Produksi dengan Kombinasi Bahan Tanaman Strategis” pada acara Socfindo Conference on Practical Applications & Exhibition (SCOPEX 2026).
Dalam materinya, Fizrul menjelaskan bahwa perkembangan industri sawit Indonesia hingga mencapai lebih dari 16 juta hektare saat ini tidak terlepas dari kontribusi para pemulia tanaman atau breeder yang berhasil menghasilkan berbagai varietas unggul untuk kondisi Indonesia.
Namun demikian, ia menilai produktivitas sawit nasional dalam beberapa dekade terakhir masih menghadapi tantangan besar akibat efisiensi penyerbukan yang belum optimal. Menurutnya, persoalan rendahnya fruit set tidak hanya terjadi di daerah pengembangan baru, tetapi juga di wilayah perkebunan sawit yang sudah lama berkembang.
Dalam data yang dipaparkan, kondisi populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus dan fruit set menunjukkan hasil yang belum ideal. Di Jawa Barat misalnya, populasi E. kamerunicus rata-rata mencapai 6.558 ekor per hektare dengan rata-rata bunga jantan 4 per hektare, namun fruit set hanya sekitar 21,26 persen (Purba et al, 2010). Sementara di Kalimantan Tengah, populasi serangga penyerbuk mencapai 16.270 ekor per hektare dengan fruit set sekitar 35 persen (Lubis, et al, 2014). Di Serawak, Malaysia pada 2018, populasi E. kamerunicus berkisar 10.970–16.180 ekor per hektare dengan fruit set sekitar 30 persen (Norman et al, 2018).
Menurut Fizrul, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya populasi serangga penyerbuk belum tentu menjamin tingginya keberhasilan penyerbukan. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk karakter genetik varietas dan perubahan aroma bunga yang memengaruhi perilaku serangga penyerbuk.
“Ada beberapa kasus serangga penyerbuknya diam dan yang datang malah lebah untuk persilangan varietas-varietas tertentu. Perubahan komposisi, proporsi, dan konsentrasi komponen aroma bunga mempengaruhi perilaku penyerbuk,” kata Fizrul dalam acara SCOPEX 2026 hari Selasa (19/05/2026)
Ia menjelaskan bahwa efisiensi penyerbukan sawit dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari rendahnya populasi serangga penyerbuk, faktor genetik dan lingkungan, musuh alami seperti tikus dan laba-laba, hingga kultur teknis dan faktor iklim.
Fizrul menyoroti bahwa pola penanaman single varietas dalam skala luas menjadi salah satu penyebab rendahnya fruit set di berbagai perkebunan sawit. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian terhadap perilaku serangga penyerbuk, setiap varietas ternyata memiliki daya tarik yang berbeda terhadap serangga penyerbuk.
“Ternyata setiap varietas serangga tidak sama rata tertariknya. Karena pada saat dan tempat tertentu akan mengeluarkan aroma berbeda masing-masing varietas,” jelas Fizrul.
Karena itu, ia merekomendasikan penerapan pola tanam multivarietas sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi penyerbukan dan produktivitas sawit. “Kalau masih konsisten pada single varietas, harus diubah varietasnya. Disarankan per 30 hektar ganti varietasnya. Mix it, max it,” ujar Fizrul.
Dalam materinya, pola tanam multivarietas dijelaskan sebagai sistem penanaman beberapa varietas sawit dalam satu area dengan pola menyerupai papan catur. Strategi ini diterapkan untuk mengantisipasi rendahnya fruit set akibat keterbatasan serangga penyerbuk dan ketidaksinkronan pembungaan.
Fizrul menjelaskan bahwa pemilihan varietas harus mempertimbangkan karakteristik dan potensi genetik masing-masing bahan tanaman. Berdasarkan data yang dipaparkan, potensi produksi tandan buah segar (TBS) dari varietas unggul dapat mencapai 25,4–34,4 ton per hektare per tahun, dengan potensi ekstraksi CPO sebesar 26–31,8 persen dan potensi produksi CPO sekitar 7–9,5 ton per hektare per tahun.
Selain itu, varietas unggul juga memiliki karakter umur panen perdana 24–28 bulan, pertumbuhan meninggi 40–85 cm per tahun, serta jumlah tandan mencapai 20–36,9 tandan per pohon per tahun. Menurut Fizrul, pola tanam multivarietas mampu meningkatkan peluang sinkronisasi bunga jantan dan betina antarvarietas sehingga membantu meningkatkan keberhasilan penyerbukan.
“Pola tanam multivarietas meningkatkan peluang penyerbukan melalui keselarasan bunga jantan dan betina antar varietas sehingga mengurangi risiko rendahnya fruit set di area dengan kekurangan serangga penyerbuk kelapa sawit,” katanya.
Ia menambahkan bahwa penerapan pola tanam multivarietas di lapangan menunjukkan hasil yang cukup positif. Meskipun populasi serangga penyerbuk relatif rendah dan sex ratio tinggi, pola ini mampu menghasilkan fruit set rata-rata lebih dari 50 persen. “Penerapan pola tanam multivarietas menghasilkan nilai fruit set rerata lebih dari 50 persen, meskipun populasi serangga penyerbuk cenderung rendah dan sex ratio tinggi,” jelas Fizrul.
Meski demikian, ia mengakui bahwa penerapan sistem multivarietas membutuhkan manajemen yang lebih kompleks dibandingkan pola tanam tunggal. Namun, pendekatan tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi adaptif untuk meningkatkan produktivitas sawit di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan penyerbuk, dan rendahnya fruit set.
“Kendati memerlukan manajemen yang kompleks, pendekatan ini memiliki potensi sebagai solusi adaptif terhadap peningkatan produktivitas,” pungkas Fizrul.

