https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
30 April, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Peremajaan merupakan instrumen penting untuk meningkatkan produktifitas karet dan pendapatan petani. Luas kebun karet Indonesia 3,7 juta ha dan 3,1 juta ha milik petani. Pemerintah sudah merencanakan peremajaan karet rakyat seluas 700.000 dari tahun 2019-2027, pertahun sekitar 60.000-100.000 ha, tetapi belum terlaksana. Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono menyatakan hal ini pada soft launching SNARPI (Sustainable Natural Rubber Platform Indonesia).

Tahun ini Kementan sudah mengajukan anggaran Rp1 triliun untuk peremajaan 50.000 ha tetapi ditolak Kemenkeu. “Saat ini kita sedang memperjuangkan jangan sampai nol. Mungkin susah kalau sampai 50.000 ha, minimal 10.000 ha,” kata Kasdi.

Peremajaan memerlukan biaya besar, kurang lebih Rp25 juta/ha untuk PO dan merupakan investasi jangka panjang. Biaya sebesar itu tidak terjangkau oleh petani sedang ketersediaan APBN sendiri terbatas. Tahun ini anggaran peremajaan karet Rp12,13 miliar dengan target 5.005 ha.

APBN hanya salah satu sumber pembiayaan dan dengan kondisi keuangan negara sekarang apa yang sudah diputuskan juga bisa berubah ditengah jalan, karena itu perlu dicari alternatif pembiayaan lain seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tahun lalu KUR untuk pertanian mencapai Rp55 triliun dan perkebunan merupakan penyerap terbanyak. Tahun ini KUR untuk pertanian ditingkatkan kadi Rp75 triliun.

Indonesia merupakan produsen karet nomor 2 di dunia, Thailand nomor 1 dan Malaysia nomor 3. Ketiga negara ini memproduksi 70% karet alam dunia tetapi tidak bisa menentukan harga karet alam. Harga karet alam menjadi berfluktuasi naik turun dan produsen tidak berdaya.

Pertemuan tiga negara sudah menyepakati pengurangan ekspor untuk mengurangi pasokan dan meningkatkan penggunaan di dalam negeri, tetapi tidak berjalan sesuai kesepakatan. Untuk meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri Indonesia melakukannya dengan aspal karet.

Baca Juga  Kemenperin Dongkrak Produksi Industri Olahan Karet Alam

Kementan juga sudah minta Kemenhub untuk pengunaan karet sebagai bantalan jembatan, bantalan rel kereta api, marka jalan dan roll di tikungan tetapi belum berjalan. Karet alam 70% diserap industri ban sehingga ketergantungan pada industri ini sangat besar.

Saat ini petani karet sedang tersenyum karena harga sedang naik, tetapi belum tahu sampai kapan harga bagus ini bertahan. Untuk meningkatkan daya tawar petani karet maka dibentuk kelembagaan petani yaitu UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar). Saat ini UPBB yang sudah terbentuk di seluruh Indonesia ada 400.

Kedepan UPPB akan masuk ke hilir dengan dengan memproduksi barang yang banyak dibutuhkan seperti conblok karet, sandal karet dan lain-lain. Pemerintah akan melatih UPPB untuk mampu masuk kehilir.

Sustainability karet alam yang diinisiasi SNARPI harus segera ditindaklanjuti dengan apa saja yang harus dilakukan. Kelapa sawit punya ISPO yang memenuhi 12 tujuan SDGS. Pengalaman ISPO ini bisa dijadikan pelajaran untuk SNARPI.

Bayu Krisnamurthi, pakar agribisnis IPB menyatakan sustainable platform karet sudah lama diharapkan, jadi keberadaannya agak sedikit terlambat. Permasalahan sustainabiility sudah ada sejak 20 tahun lalu yaitu produktivitas petani yang rendah dan lambatnya peremajaan.

Sudah berapa kali Dirjen Perkebunan berganti dan selalu dinyatakan bahwa peremajaan karet rakyat keharusan, tetapi belum berjalan juga. Platform ini diharapkan memberi solusi terhadap masalah ini. Bayu mengusulkan SNARPI menggunakan SDGs sebagai basis sustainable.

“Mengacu pada SDGS nomor satu adalah petani karet harus sejahtera, tidak boleh miskin. Setelah itu dibuat indikator yang jelas. Indikator yang paling utama adalah peremajaan karet rakyat, tentukan targetnya kemudian diperjuangkan bersama,” kata Bayu.

(Visited 102 times, 1 visits today)