3 July, 2020

Tahun 2020 ini Dinas Perkebunan Jawa Timur untuk optimalisasi produksi gula sudah membuat program sinergi on farm off farm. Disbun akan menerjukan tim pendamping ke masing-masing PG untuk bersinergi dengan kelompok tani tebu rakyat sekitarnya. Karyadi, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur menyatakan hal ini dalam webinar tebu Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat.

Dengan cara ini PG akan mendapatkan tebu secara optimal dari wilayah sekitarnya. Tidak ada lagi tebu wara-wiri mencari PG yang jauh sehingga manis bersih segar tidak tercapai. Sayang pandemi covid-19 membuat semua rencana ini tidak bisa dilakukan pada musim giling sekarang.

Sinergi on farm off farm merupakan salah satu kebijakan teknis Disbun Jatim. Kebijakan lainnya adalah perluasan areal, rawat ratoon, bongkar ratoon untuk kebun yang sudah dikepras lebih dari 4 kali, penataan varietas sehingga masak awal tengah akhir seimbang, peningkatan rendemen gula , tebang angkut dengan kaidah manis bersih segar juga manajemen supaya memperkecil masa tunggu di PG.

Kebijakan pergulaan di Jatim adalah ada perda peningkatan rendemen dan hablur, dibentuk tim pengawasan rendemen dan hablur, menerima investasi pendirian PG yang berbahan baku tebu, membuka perwakilan dagang di seluruh Indonesia, khusus untuk gula fokus di Indonesia wilayah Timur.

Jatim dalam 10 tahun terakhir ini mengalami penurunan areal tebu, produksi dan produktivitas. Pendirian PG baru juga belum diiringi dengan perisapan areal tanaman tebu. Varietas yang dominan masih BL yang masak akhir. Sulitnya mendapat benih yang bersertifikat.

Kemitraan yang kurang harmonis, banyak tebu wira wiri. Manajemen tebang angkut perlu lebih ditingkatkan agar tebu yang digiling tepat masak dan waktu tunggu sampai proses giling cepat lebih cepat. Kurangnya sarana dan prasarana antara lain irigasi, traktor, pompa air, alat kepras.Pengembangan areal baru di Madura cenderung turun karena jauh dari PG sehingga tidak efiesien.

Taksasi awal tahun 2020 menunjukkan jumlah PG yang beroperasi 31, luas areal 193.826 ha, 14.507.022 ton atau 74,85 ton/ha, rendemen 8,25, produksi gula 1.196.960 ton, produktivitas 6,18 ton gula/ha, hari giling rata-rata 129 hari.

Tahun 2020 ada peningkatan dibanding tahun 2019 dengan 31 PG beroperasi, luas areal 175.632 ha, tebu digiling 12.975.595 atau 73,88 ton/ha, rendemen 8,08, produksi gula 1.046.856 ton, produktivitas 5.96 ton gula/ha.

Jawa Timur merupakan produsen gula terbesar di Indonesia. Produksi tahun 2019 1.046.856 ton. Konsumsi 476.674 ton, surplus 639.959 ton untuk kebutuhan provinsi lain. Jumlah petani 489.000 orang, TK on farm 34.255.000 orang, HOK 189 ribu orang/hari. Dari 61 PG di Indonesia, 31 ada di Jawa Timur. Dalam 10 tahun terakhir 44,44% lahan tebu nasional dan produksi 47,86% berasal dari Jatim.

(Visited 91 times, 1 visits today)