15 October, 2020

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Ditjenbun saat ini sedang merancang kemitraan inti plasma yang bukan dihulu saja tetapi masuk ke produk derivatif dihilir. “Kalau dihulu sudah pasti. Kami akan membantu ASPEKPIR dalam konteks kemitraan ini untuk meningkatkan intensitas frekuensi komunikasi inti plasma, fasilitasi program dan regulasi sehingga kemitraan menjadi lebih baik,” kata Kasdi Subagyono, Dirjen Perkebunan pada Webinar yang diselenggarakan ASPEKPIR dan GAPKI.

Ditjenbun sedang mempersiapkan bimbingan teknis inti plasma. Plasma berkerjasama dengan inti meningkatkan kapasitas sehingga mampu mengelola dari hulu sampai hilir. “Kami sedang godog supaya hal ini bisa tercapai lewat peningkatan kapasitas SDM plasma,” katanya.

Menteri Pertanian sudah memerintahkan Dirjen bun untuk menyelesaikan petani sawit dalam kawasan hutan. Saat ini berkoordinasi dengan Ditjen Planologi dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanaan sedang dilakukan pendataan sehingga bisa mendapat data by name by adress petani yang berada dalam kawasan hutan.

“Setelah datanya lengkap baru kita cari solusi bagaimana supaya kebun mereka bisa dikeluarkan dari kawasan hutan, supaya mereka tenang berusaha, tidak dikejar-kejar aparat. Kita harus memberikan peluang supaya mereka lepas dari masalah hukum,” kata Kasdi lagi.

Upaya Ditjen Perkebunan berkaitan dengan perspektif pengembangan wilayah dengan peningkatan produktivitas sawit rakyat pintu masuknya adalah PSR. Eksekusi PSR sebagian besar dilakukan pada petani yang melakukan kemitraan. Sampai Oktober 2020 rekomtek yang sudah keluar 192.000 ha sedang dana yang sudah ditransfer untuk 170.000 ha.

Semuanya dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. ASPEKPIR punya posisi strategis untuk membantu percepatan PSR. Target dari PSR adalah meningkatkan produktivitas petani dari 3 ton CPO /ha menjadi 6-7 ton CPO/ha.

PKS tanpa kebun yang sekarang sudah terlanjur ada lewat izin bupati bisa menganggu kemitraan inti plasma. Ditjenbun akan masuk dari sisi regulasi untuk memecahkan masalah ini.

Dalam kerangka PSR, Kasdi juga ingin supaya petani plasma punya keahlian memproduksi benih kelapa sawit bermutu tinggi. Ditjenbun akan menjalin kerjasama dengan lembaga penelitian sebagai sumber benih untuk mewujudkan hal ini.

Benih yang digunaan untuk replanting harus benar-benar sesuai SNI yaitu kontaminasi dura maksimal 2,5% , supaya petani terjamin bahwa kebunnya ketika berbuah produktivitasnya tinggi. Ditjenbun bekerjasama dengan sebuah perusahaan bioteknologi akan melakukan pengujian dini benih untuk PSR dan dananya diharapkan dari BPDPKS.

(Visited 284 times, 1 visits today)