Jawa Timur, Mediaperkebunan.id – Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, menyampaikan bahwa kawasan Ijen merupakan salah satu sentra kopi nasional yang memiliki potensi besar, mencakup lahan PTPN dan juga lahan Perhutani yang dikelola oleh petani rakyat. “Komoditas unggulan dari kawasan ini, yakni Java Coffee, telah dikenal luas di pasar global dan menjadi simbol kejayaan kopi Indonesia,” ujar Heru.
Lebih lanjut, Plt. Dirjen Perkebunan itu menegaskan, “Dengan dukungan penuh dari pemerintah, kawasan Ijen kami dorong untuk tumbuh sebagai pusat kopi berkelas dunia dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi rakyat di pedesaan.”
Pemerintah terus memperkuat sinergi lintas sektor guna mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya melalui penguatan komoditas unggulan seperti kopi. Salah satu upaya nyata dilakukan melalui kolaborasi strategis dengan PTPN III Holding (Persero) dan pemangku kepentingan lainnya.
Kawasan Pegunungan Ijen adalah salah satu wilayah penghasil kopi unggulan di Indonesia dengan hamparan ± 15.600 hektare. Perkebunan kopi di Pegunungan Ijen terdiri dari kombinasi lahan yang dikelola oleh PTPN (±4.986 hektare) dan lahan Perhutani yang dikelola oleh petani rakyat (±10.666 hektare). Kawasan ini menjadi model kolaborasi antara negara dan masyarakat yang ideal dalam pengembangan komoditas perkebunan kopi.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, menyampaikan bahwa PTPN dan Perhutani aktif melakukan pendampingan kepada petani kopi di wilayah ini melalui program PMO Kopi dan Kakao Nusantara Kementerian. “Pendampingan petani dilakukan secara komprehensif, bekerjasama dengan berbagai stakeholders terutama BUMN yang beririsan dengan bisnis perkebunan, seperti Pupuk Indonesia untuk penyediaan akses pupuk non-subsidi dan Himbara untuk akses pembiayaan,” jelas Denaldy.

“Kami juga memiliki Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember yang menjadi research center yang mendukung pendampingan kepada petani kopi di seluruh Indonesia,” tambahnya. Lebih lanjut, PTPN juga mengelola kebun kopi di Kawasan Pegunungan Ijen yang dikenal sebagai Java Coffee Estate (JCE). Operasional JCE dukungan berbagai program strategis, seperti replanting, sertifikasi keberlanjutan, penerapan konsep traceability, serta adaptasi terhadap regulasi global.
Disampaikan oleh Jatmiko Krisna Santosa, Direktur Utama PTPN IV yang merupakan Sub Holding PTPN III (Persero), sejak PTPN IV mengelola kerja sama operasi pengelolaan JCE bersama PTPN I tahun 2022 lalu, progress kinerja produksi dan pemasaran kopi jawa menunjukkan hasil menggembirakan.\
Tahun 2024 lalu, JCE mampu menghasilkan kopi arabika greenbeans hingga 825 ton yang sebagian besar diekspor ke mancanegara seperti Jerman, Belgia, Amerika Serikat, Inggris, Arab Saudi, dan Norwegia.
“Melihat tren positif sepanjang 2024, kami yakin ekspor specialty coffee arabika dari JCE yang dikenal sebagai Java Coffee akan terus tumbuh. Dan juga yang terpenting, JCE dapat menjadi role model bagi budidaya kopi petani yang ada di dalam ekosistem PMO,” ungkap Jatmiko.
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka dalam kunjungan kerjanya melakukan panen raya kopi di Java Coffee Estate, Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur, pekan lalu.
Dari total luas 15.600 hektare kebun, area panen yang disaksikan Wapres mencakup 10 hektare, dengan hasil panen rata-rata 3 kg per pohon. Mayoritas petani yang hadir adalah buruh harian yang menerima upah Rp2.000 per kilogram kopi yang dipetik, dengan rata-rata kapasitas panen 60–100 kilogram per hari.
Dalam kegiatan bertajuk “Panen Raya Bersama Masyarakat Petani Kopi Ijen”, Wapres melakukan panen dan sortasi kopi secara langsung, hingga berdialog dengan petani kopi. Dalam kegiatan itu, Wapres juga menyerahkan bantuan sembako dan hewan ternak kambing yang disalurkan oleh PTPN.

