27 July, 2020

Astra Agro Lestari (AAL) tetap mencatatkan kinerja operasional dan finansial yang positif meski negeri ini turut dihempas pandemik Covid-19. Upaya digitalisasi yang dilakukan sejak tahun 2017 membuat operasional kebun bisa berjalan normal. Penerapan teknologi terbukti mampu meningkatkan efisiensi. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana perusahaan perkebunan kelapa sawit ini melakukan digitalisasi, Media Perkebunan mewawancarai Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, Santosa.
Kenapa Astra Agro Lestari melakukan digitalisasi ?
Dengan kebun seluas 220.000 ha yang tersebar di beberapa lokasi dan dikelola dengan masif, kami di Astra Agro berpikir bagaimana mengelola dengan efisien. Satu kata kuncinya adalah data. Pemerintah pusat sendiri sering bicara data. Itu yang kita inisiasi. Ketika awal saya bergabung kembali sebagai CEO Astra Agro Lestari, dibentuk tim kecil bagaimana mentransformasi operasional kebun base on data, terutama di proses produksi.
Komputerisasi sudah lama dilakukan tetapi bagaimana proses produksi juga berbasiskan pada data. Itu ide awalnya. Kalau dulu bicara produktivitas pemanen secara rata-rata agregat sekarang kita ingin sampai satuan terkecil. Hari ini kita bisa monitor per afdeling perhari. Sedang di pabrik ada 6 stasiun yang kita monitor perjam. Harapannya adalah aktivitas pabrik langsung terdeteksi kalau ada sesuatu.
Transportasi kita atur dengan boarding sistem. Sama dengan penerbangan, ketepatan waktu bisa dicapai itu hanya ujungnya saja, di balik itu ada handling. Kalau ada salah satu sistem handling terganggu maka penerbangan terganggu. Boarding sistem kita juga begitu. Jadwal kapan truk masuk setiap slot di pabrik kita sudah prediksi. Kalau meleset kita tahu apakah transporternya atau panennya pasti ada masalah. Dibangun sejak akhir 2017, selesai tahun lalu, jadi pas pandemi kita punya alat yang cukup membantu.
AAL sendiri sejak awal Maret sebelum PSBB sudah membuat perjalanan dinas sangat terbatas. Dengan adanya TI kita masih bisa memonitor semua kebun. Tetapi tetap ada yang hilang karena melibatkan tenaga kerja begitu banyak tidak bisa dihindari tetap diperlukan interaksi sosial .
Setelah ini maka digitalisasi akan dilanjutkan untuk proses perawatan tanaman. Sekarang masih dalam tahap finalisasi dan hasilnya cukup positif. Di bayangan kita nantinya setiap pekerja rawat ada GPS (global positioning system) tracker sehingga kita tahu produktivitasnya. Perawatan ini outputnya tidak bisa dihitung. Prunning misalnya masa kita hitung tiap pelepah malah kemahalan.
Nanti setiap mandor kita pasang kamera. Pada saat dia kontrol secara visual bisa dimonitor. Tentu tidak bisa lihat satu-satu. Nonton film saja ngantuk apalagi nonton kebun. Kita akan padukan dengan statistik random sampling untuk melihat hasil kerja. Sejauh ini hasilnya cukup efektif.
Dulu selesai apel pagi ada yang tidak bisa tanda tangan dia buat cap jempol, tetapi kita tidak tahu itu jempol siapa. Sekarang pake tracker kita bisa tahu. Kalau dulu habis apel pagi bisa ngaso atau makan sekarang tidak bisa. Hasil kerjaan dulu mandor lihat sekilas-sekilas sekarang dilihat seluruhnya. Dengan random sampling kita bisa hitung produktivitasnya. Dan untuk kontur geografis kita bisa hitung persis kebutuhan tenaga kerjanya sehingga bisa lebih optimal. Untuk lebih lengkap baca di majalah media perkebunan edisi 200/Juli 2020

(Visited 51 times, 1 visits today)