Jakarta, mediaperkebunan.id – Dewan Karet yang tergabung dalam Forum Komunikasi Dewan Komoditas Perkebunan (FKDKP) menyampaikan sejumlah isu terkait kondisi terkini industri karet nasional dalam audiensi bersama Danantara Indonesia.
Perwakilan Dewan Karet, Wendy, mengungkapkan bahwa sejak puncak produksi pada tahun 2017 sebesar 3,6 juta ton. Di tahun selanjutnya kinerja sektor hulu karet Indonesia mengalami tren penurunan. Penyebab utamanya adalah menurunnya minat petani untuk mengelola kebun karet akibat harga yang rendah serta adanya serangan penyakit gugur daun (pestalotiopsis).
“Produktivitas rendah dan harga yang tidak menguntungkan membuat pendapatan petani tidak lagi mencukupi. Padahal konsumsi karet global terus meningkat, namun justru Indonesia yang mengalami penurunan produksi,” jelas Wendy.
Saat ini, sekitar 92% perkebunan karet dikelola oleh petani, sementara BUMN dan swasta hanya menguasai 8%. Hal ini menjadikan sektor karet sangat bergantung pada kondisi petani kecil. Ditambah lagi, masa tidak berproduksi tanaman karet yang panjang (5–6 tahun) membuat banyak petani beralih ke komoditas lain seperti sawit yang lebih cepat menghasilkan.
Meski demikian, Wendy menegaskan bahwa karet masih memiliki keunggulan karena mampu tumbuh di daerah terpencil yang minim infrastruktur, berbeda dengan sawit yang memerlukan akses memadai. Dengan sekitar 1,8 juta petani karet dan produksi 2,2 juta ton, potensi industri ini dinilai tetap besar.
Di sisi hilir, hampir seluruh industri pengolahan karet dikuasai swasta. Upaya PTPN masuk ke industri hilir di masa lalu belum berhasil. Padahal, peluang pengembangan produk berbasis karet sangat terbuka, mulai dari blockpainter, bearing, hingga seismic bearing, yang banyak digunakan untuk infrastruktur dan dibiayai pemerintah.
“Jika kita lihat Malaysia, sejak 1988 mereka fokus mengembangkan industri berbasis lateks. Kini Malaysia menguasai 60% pasar lateks dunia, sementara Indonesia hanya 3% padahal pernah menjadi pionir,” tambah Wendy.
Meskipun menghadapi tantangan, tren harga karet internasional menunjukkan sinyal positif. Harga SIR 20 yang sempat berada di level USD 1,4/kg, naik hingga hampir menyentuh USD 2/kg pada 2024, dan bertahan di sekitar USD 1,7/kg pada semester pertama 2025. Kondisi ini mendorong kenaikan produksi nasional sebesar 12% dan peningkatan nilai ekspor hingga 47%.
Dari sisi lingkungan, karet juga memiliki manfaat signifikan. Setiap hektar kebun karet mampu menyerap hingga 35 ton karbon per tahun serta melepaskan 13 ton oksigen per tahun, sekaligus berfungsi sebagai pengatur tata air yang baik.
“Industri karet Indonesia masih punya prospek besar, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan. Tantangannya adalah memperbaiki ekosistem bisnis agar petani kembali bergairah dan industri hilir lebih berkembang,” tutup Wendy.
Audiensi ini menjadi langkah penting bagi Dewan Karet untuk mendorong perhatian lebih besar dari pemangku kepentingan, termasuk Danantara, terhadap penguatan sektor hulu dan hilir karet sebagai salah satu komoditas strategis perkebunan Indonesia.

