Jakarta, mediaperkebunan.id – Setelah dipastikan bakal mendapatkan dana sebanyak Rp 1,5 triliun, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food dipastikan bakal menyerap gula produksi petani tebu secara besar-besaran.
Ghimoyo selaku Direktur Utama ID Food menyebutkan dana sebanyak itu merupakan dukungan permodalan berupa dana pinjaman atau shareholder loan dari PT Danantara Asset Management (Persero) atau DAM.
“Dari situ, ID Food bakal menyiapkan langkah strategis dengan menyerap gula produksi petani tebu secara besar-besaran,” kata Ghimoyo dalam keterangan resmi yang diperoleh Mediaperkebunan.id, Sabtu (30/8/2025).
Dia menegaskan bahwa kebijakan pembelian tersebut diambil sebagai bentuk penyelamatan ketika stok gula petani masih menumpuk di gudang sejumlah pabrik gula akibat harga jual yang terus melemah.
Ghimoyo menjelaskan, dengan adanya dukungan permodalan ini, ID Food dapat lebih optimal menyerap gula petani.
“Kami memastikan harga beli minimal sesuai harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah agar petani memperoleh kepastian pasar,” kata Ghimoyo.
“ID Food juga ingin memastikan para petani tebu mendapat kn keuntungan dengan harga gula di tingkat petani yang terjaga,” ujarnya lagi menambahkan.
Lebih lanjut, Ghimoyo bilang, penyerapan ini dilakukan dengan skema offtake terhadap gula petani tebu dari pabrik gula PT PG Sinergi Gula Nusantara (SGN) maupun pabrik gula milik ID Food.
“Penyerapan yang akan dilakukan berfokus pada gula petani tebu. Diharapkan aksi ini dapat menjadi stimulus guna membantu pemerintah membentuk stabilitas harga gula dari hulu hingga hilir,” sebutnya.
Hingga Agustus, ujarnya, total gula petani yang berhasil diserap mencapai 58 ribu ton terdiri dari 21,5 ribu ton dari pabrik gula SGN, 8,5 ribu ton dari pabrik gula ID Food.
“Kemudian, 6,9 ribu ton pembelian SGN kepada petani tebu, serta 21,5 ribu ton penyerapan asosiasi pedagang dari pabrik gula SGN,” beber Ghimoyo.
Kata Ghimoyo, ID Food berkontribusi sebesar 51 persen dengan melakukan penyerapan sebanyak 30 ribu ton yang berasal dari 10 pabrik gula (PG) yang ada.
“Yaitu PG Semboro, PG Assembagoes, PG Pradjekan, PG Gempolkrep, PG Djatiroto, PG Krebet Baru, PG Sindanglaut, PG Tersana Baru, PG Jatitujuh, dan PG Candi Baru,” paparnya.
Di sisi lain, Ghimoyo berharap agar rembesan gula rafinasi dapat segera dihentikan karena memberi tekanan tambahan pada biaya logistik dan pembiayaan yang sedang dijalankan oleh ID Food dalam program serapan ini.

