Banten, mediaperkebunan.id – Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) bersama produsen benih sawit Indonesia dan Malaysia menyumbangkan total 102.000 benih kecambah kelapa sawit (GS) sebagai solidaritas atas penderitaan petani kecil di Honduras terdampak badai Eta dan Iota.
Kontribusi bantuan benih sawit ini menjadi langkah kecil bagi CPOPC dalam memberikan bantuan dan memfasilitasi produksi minyak sawit petani kecil di Honduras. Apalagi, Honduras telah menyelesaikan proses aksesinya dan akan menjadi negara ketiga yang menjadi anggota penuh CPOPC pada Mei 2023.
Menurut Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, sekaligus Ketua CPOPC, Dato Sri Haji Fadillah Yusof, kontribusi tersebut menandakan kerja sama yang erat di antara negara-negara penghasil minyak sawit.
“CPOPC telah membuktikan pentingnya dalam pengembangan sektor kelapa sawit secara global. Kontribusi ini menandakan pengakuan kami terhadap Honduras sebagai anggota penting CPOPC. Sudah sepantasnya kami memberikan bantuan benih sawit. Saya harap akan membantu membina ikatan yang lebih kuat antara anggota dan negara-negara peninjau ke depan,” kata Dato Fadillah pada acara Pengiriman Bantuan Benih Sawit ke Honduras, di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, memandang kontribusi tersebut sebagai respon kemanusiaan yang diharapkan dapat semakin mempererat kemitraan antara CPOPC dan Honduras.
“Saya ingin menegaskan kembali pentingnya aliansi yang diperkuat di antara negara-negara penghasil minyak sawit dan agar CPOPC dapat terlihat dan mengambil peran yang lebih signifikan dalam waktu dekat. Kontribusi bibit kecambah ini harus dilihat sebagai langkah awal menuju kerjasama yang jauh lebih baik antar negara produsen,” ungkap Airlangga.
Menurut Airlangga, pemerintah terus berupaya mendorong beragam solusi untuk menanggulangi potensi krisis pangan yang diproyeksikan akan melanda berbagai negara. Salah satu komoditas yang berpotensi untuk menjadi solusi penting yang harus dipertimbangkan yakni minyak sawit yang merupakan edible oil atau vegetable oil.
“Inisiatif donasi ini sangat tepat untuk menunjukkan komitmen kami dalam kolaborasi dan solidaritas diantara negara-negara penghasil minyak sawit,” ujar Airlangga.
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga menyambut Honduras sebagai anggota baru CPOPC serta menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak terkait yang telah memastikan ketersediaan benih, kelengkapan administrasi, dan logistik tepat waktu untuk kelancaran pengiriman benih berkecambah tersebut.
“Saya ingin menegaskan kembali pentingnya penguatan aliansi diantara negara-negara penghasil minyak sawit dan agar CPOPC dapat mengambil peran yang lebih besar di masa mendatang. Upaya benih berkecambah ini harus dilihat sebagai satu langkah untuk perjalanan seribu mil mendatang,” jelas Airlangga.
Menteri Pertanian Honduras, Laura Suazo, menghadiri upacara tersebut secara virtual mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sumbangan benih kelapa sawit tersebut.
“Kami berharap penerimaan Honduras ke CPOPC akan sangat bermanfaat bagi mereka sebagai negara anggota baru. Kita bersama dan akan tetap bersama agar petani sawit kita selalu mendapatkan yang terbaik dari aliansi ini,” kata Laura menanggapi pesan ucapan selamat aksesi Honduras.
Sementara itu, Sekjen CPOPC, Rizal Affandi Lukman, menyampaikan bantuan ini diharapkan dapat disalurkan kepada 337 petani di Honduras yang membutuhkan.
Dia berharap dapat membantu mereka dalam penanaman kembali 510 hektar dari 4.988 hektar perkebunan kelapa sawit rusak akibat bencana alam. Kontribusi bantuan benih terdiri dari 20.000 benih sawit dari CPOPC, 62.000 benih sawit dari tujuh perwakilan sektor swasta Indonesia, dan 20.000 benih sawit dari sektor swasta Malaysia.
“Upaya kolaboratif ini merupakan contoh penting dari apa yang dapat dicapai ketika semua pemangku kepentingan bekerja sama untuk mengatasi dampak keberlanjutan minyak sawit. Kemitraan seperti inilah yang dibutuhkan industri saat ini untuk mengatasi tantangan tidak hanya dampak bencana alam tetapi juga kebijakan diskriminatif terhadap kelapa sawit,” jelas Rizal.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yakni Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Menteri Pertanian Honduras, Secretary General of MPC, Ambassador of Indonesia to Panama, serta Advisor from Embassy of Malaysia in Jakarta.

