CPOPC (Council of Palm Oil Producing Coutries) diharapkan oleh Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, mampu menaikkan nilai tawar minyak sawit. “Diharapkan bisa seperti OPEC untuk minyak kelapa sawit,” katanya.
Kalau dalam OPEC mereka bisa mengatur pasokan dengan tidak mengambil minyak yang tersimpan di bumi, pada kelapa sawit hal ini tidak bisa dilakukan. Pada sawit caranya dengan memperbaiki manajamen inventory.
“Kalau hal ini bisa diperbaiki dan negara-negara produsen punya kapasitas yang besar maka bisa menahan stok. Ini akan memperbaiki nilai tawar. Sekarang bila ada kelebihan stok maka harga langsung turun karena sentimen negatif pasar, “ katanya. Negara-negara anggota CPOPC harus kompak melakukan ini.
Memang tidak bisa langsung seperti itu tetapi harus dilaksanakan secara bertahap sehingga bisa sampai ke sana. Platform sustainable palm oil bagi negara-negara produsen juga harus dikembangkan sehingga ada satu standar bagi negara-negara produsen sawit. Indonesia dengan ISPO dan Malaysia dengan MSPO bisa dijadikan acuan.
CPOPC yang merupakan insiatif Indonesia lewat Presiden Jokowi dan Malaysia lewat Perdana Menteri Nadjib Tun Razak saat ini sudah mulai bekerja. Memang belum banyak yang dikerjakan tetapi paling tidak platformnya sudah ada tingggal mengembangkan program dan memberikan kontent supaya bisa melaksanakan tugasnya.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar menyatakan saat ini anggotanya baru dua negara saja yaitu Indonesia dan Malaysia. Sudah di undang 7 negara lainnya dari Afrika, Amerika Tengah dan Asia Pasifik untuk mengembangkan platform umum kerjasama. Kerjasama meliputi semua pemangku kepentingan kelapa sawit.
Lingkup kerjasama adalah peningkatan produktivitas petani, sustainability, penelitian dan pengembangan, kerjasama industri untuk meningkatkan nilai tambah, regulasi teknis dan standar, isu perdagangan.
