Jakarta, mediaperkebunan.id – Posisi Indonesia yang sudah tergeser sebagai produsen kelapa terbesar menandakan penurunan yang semakin dalam dan sistemik dalam industri ini. Permintaan produk-produk hilir kelapa di Asia tinggi dan terus tumbuh di pasar negara-negara Barat, sedang pada hulu yaitu perkebunan dan pekebun sedang krisis yang akan mengancam keberllanjutan seluruh rantai pasok. Haigan Muray, Direktur Coconut Knowledge Center (CKC) menyatakan hal ini dalam Forum dan Workshop “Revitalising the Indonesia Coconut Sector” yang diselenggarakan Coconut Knowledge Center, HIPKI, Platforma dan jicara.
Bila tidak segera diatasi, maka permasalahan hulu ini akan mendisrupsi secara signifikan kapasitas produksi industri pengolahan dan pasar. Untuk mengatasinya, sangat penting bekerjasama antara pemerintah, industri dan investor untuk merevitalisasi perkebunan dan komunitas pekebun kelapa; meningkatkan ketersediaan benih unggul kelapa, membuat proyek besar yang terkoodinasi dan komitmen program transisi yang bersifat multi tahun.
Peta jalan hilirisasi 2025-2045 yang diterbitkan Bappenas merupakanm tahap pertama dan kritis untuk masa transisi dari kondisi kelapa yang sekarang ke kondisi kelapa yang diharapkan. Transformasi kelapa dengan skala besar ini perlu dialog yang dalam, strategi investasi dan koordinasi sepanjang rantai pasok , dari petani, perkebunan skala besar dan pabrik pengolahan.
Karena itu Coconut Knowlegde Center membuat acara ini supaya semua pemangku kepentingan bersama-sama mencari solusi dan membuka peluang investasi untuk membangun ketahanan industri kelapa lebih maju.
Forum ini diharapkan membuat rencana aksi untuk merevitalisasi kelapa Indonesia dan menjadi pemimpin global dalam inovasi kelapa dan sustainability.
Pada penutupan workshop, Haigan Murray, menyatakan bahwa pembahasan materi dan juga diskusi panel memberikan solusi yang pragmatis dan sekaligus strategis untuk revitaliasi kelapa. Ini dimungkinkan karena begitu antusiasnya berbagai elemen stakeholders kelapa yang hadir pada acara ini, termasuk pelaku industri pengolahan, organisasi petani kelapa (APKI), HIPKI, para pakar/peneliti, investor, BPDP, PTPN Holding, dan Bappenas, Kementrian Pertanian, dan Kementrian Perindustrian.
Minat investor untuk mengembangkan indusri kelapa terintegrasi di Indonesia juga disampaikan dengan bentuk Letter of Commitment yang ditandatangani oleh Mr. Pradeepto Biswas, pendiri Plataforma Asia.
Seremoni ini disaksikan oleh Mr. Haigan Murray dari CKC dan Amrizal Idroes dari HIPKI di hadapan para peserta workshop.
Langkah selanjutnya untuk menjalankan hasil workshop ini sangat diperlukan yang dalam hal ini peranan pemerintah pusat sangat diperlukan. Keberhasilan revitalisasi kelapa yang mengalami krisis berat ini nantinya bisa menjadi legacy pemerintahan yang sekarang ini. Kelapa adalah komoditi rakyat, sangat strategis untuk pembangunan nasional. Sangat disayangkan, pulau rayuan kelapa sekarang sedang menjerit. Akankah dia kembali bernyayi dan melambai? Semoga.

