Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kelapa Indonesia yang pernah mendunia, kini berada di titik kritis. Pada 30 April 2025, lebih dari 80 pemangku kepentingan berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Lokakarya Revitalisasi Sektor Kelapa Indonesia pertama yang digelar oleh Coconut Knowledge Center (CKC) bersama Himpunan Pengusaha Pengolah Industri Kelapa Indonesia (HIPKI) dan Plataforma®️ Asia.
Lokakarya ini menyatukan para pemimpin dari kementerian, BUMN, pelaku usaha kelapa, lembaga penelitian, penyandang dana pembangunan, dan organisasi petani kelapa dalam satu visi: menghentikan kemerosotan sektor dan membangun ekonomi kelapa yang tangguh serta berkelanjutan.
Forum dibuka oleh Dr. Leonardo Teguh Sambodo, Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup, dengan memperkenalkan Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045, sebuah Proyek Strategis Nasional untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai pemimpin kelapa dunia.
Dr Yohannes Samosir dar CKC menyatakan saatnya sistem produksi kelapa beralih dari pola terfragmentasi dan bermargin rendah menuju kemitraan terintegrasi, layak investasi yang memberdayakan petani kecil serta modernisasi produksi. Wujudkan perubahan rasio produksi nasional dari 99:1 menjadi 70:30 (petani kecil : korporasi) melalui skema Nucleus Estate Smallholder (NES).
Prof. Dr. Hengky Novarianto (ex-BRIN) menyatakan tanpa kebun bibit yang memadai, revitalisasi kelapa bisa memakan waktu lebih dari 20 tahun. Investasi publik-swasta, kebun bibit skala besar, pusat distribusi regional, dan reformasi regulasi distribusi bibit harus segera direalisasikan.
Dr. Donald Siahaan (PPKS) menyakan Kelapa harus belajar dari kelapa sawit yaitu Investasi pada riset, keberlanjutan, dan lembaga pendanaan seperti BPDPKS akan mendorong perubahan jangka panjang. Model nucleus-plasma perlu diadopsi secara luas untuk mendukung transformasi industri kelapa.
Mr. Haigan Murray (CKC) menyatakan ubah perkebunan kelapa tua menjadi sumber biomassa untuk energi terbarukan dan bio-metanol. Inisiatif ini tidak hanya membuka peluang pembiayaan transisi untuk penanaman ulang, tetapi juga mendukung target energi nasional.
Mr. Pradeepto Biswas (Plataforma®️ Asia) yang telah berhasil dalam pengolahan kelapa dan agribisnis inklusif di India menyatakan secara resmi berkomitmen untuk mendirikan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi berkapasitas 100 ton per hari dan perkebunan NES di Indonesia. Langkah ini menjadi bukti konkret dari hasil lokakarya.
Dari diskusi terungkap bahwa krisis pasokan disektor hulu terjadi karena kurangnya investasi berkelanjutan pada perkebunan, rantai nilai yang ketinggalan zaman, dan minimnya partisipasi petani kecil memperparah tantangan sektor ini. Investasi untuk petani kecil masih minim karena dana mengalir ke pabrik, bukan ke lahan pertanian, mengancam keberlanjutan jangka panjang industri.
Untuk mengatasinya perlu mkengubah struktur hulu dari rasio 99:1 menjadi 70:30 (petani kecil : korporasi) dengan melibatkan perusahaan negara dan swasta. Memberikan insentif menarik untuk integrasi hulu-hilir melalui model NES/PIR yang terbukti efektif. Mendukung petani kecil dengan akses pembiayaan guna meningkatkan produktivitas, menjaga stabilitas harga domestik, dan memperkuat daya saing ekspor.
Plataforma®️ Asia menegaskan komitmennya melalui penandatanganan Surat Kesepakatan untuk investasi besar, mengintegrasikan sektor hulu dan hilir demi masa depan yang lebih kuat.
Lokakarya ini mengawali langkah terkoordinasi Indonesia menuju ekonomi kelapa yang kuat, kompetitif, dan inklusif. Kini, momentum tersebut harus diwujudkan melalui Proyek Percontohan untuk mengintegrsikan skema Nucleus Estate Smallholder (NES); Kemitraan swasta-publik untuk pengembangan infrastruktur benih.

