Jakarta, mediaperkebunan.id – Kelapa sawit sangat berperan besar pada ekonomi Indonesia. Pada tingkat provinsi, semakin besar produksi minyak sawit semakin besar juga pendapatannya. Pendapatan pekerja tanpa keterampilan, informal dan formal bidang pertanian, kehutanan dan perikanan di Indonesia jauh dibawah industri pengolahan. Hanya pendapatan dari pertanian kelapa sawit yang sama dengan pendapatan industri pengolahan.
Jean Marc Roda, Regional Director for South East Asia – Islands menyatakan hal ini pada 1st International Environment Forum (IEF) dalam rangka Hari Bumi yang dilaksanakan Media Perkebunan dengan dukunga BPDP.
Bagi seorang gubernur , keberadaan sawit sangat menguntungkan secara politik. Dengan pendapatan rata-rata yang bekerja pada sektor pertanian dan industri olahan Rp1 juta/bulan. Bila ada 100.000 ha perkebunan kelapa sawit maka ada kenaikan pendapatan minimal 1,2% pada bidang pertanian dan 6% pada industri.]
Semakin luas semakin besar pendapatan masyarakatnya. Dari sisi bisnis Ini adalah hasil penelitian peneliti independent yang tidak terafiliasi dengan politik manapun.
Kelapa sawit sangat penting bagi petani. Indonesia punya 30 juta orang petani kelapa sawit, dengan 21 juta orang diantaranya punya lahan dibawah 1 ha. Ada 95-130 juta anggota keluarga yang hidupnya tergantung pada lahan yang kurang dari 1 ha itu. Indonesia harus memberi mereka kemampuan dan bekal untuk bertarung dalam kompetisi global.
Penyebutan deforestasi harus dilakukan secara hati-hati. Pengindraan jauh (remote sensing) bisa secara jelas mendeteksi dan mengetahui trend perubahan penggunaan lahan, tetapi berapa persisnya terjadi deforestasi masih belum bisa diketahui secara akurat.
Kesulitan yang dialami petani untuk memenuhi EUDR adalah geolokasi. Lokasi geografi yang menggambarkan lahan dengan minimal satu koordinat lintang dan bujur paling sedikit 6 digit desimal. Sedang jika lahan diatas 4 ha harus berbentuk polygon sehingga lebih banyak koordinat lintang dan bujur. Ada 21 juta petani sawit yang belum ada koordinat lokasi kebunnya.
Penelitian CIRAD menunjukan tidak ada hubungan deforestasi dengan pembangunan kelapa sawit. Ketika terjadi pembangunan kebun sawit besar-besaran justru deforestasi semakin menurun.
Untuk mengatasi deforestasi maka bisa mulai dari level Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Lahan kelapa sawit di Indonesia jauh sekali dibawah lahan KPH. Tantangan utamanya adalah bagamana membuat 600 KPH ini berfungsi juga bisa digunakan untuk landscape lahan pertanian yang berada di bawah UU Agraria.
Peningkatan konsumsi minyak nabati dunia penyebabnya adalah pertambahan penduduk. Tahun 2021 paling besar konsumsinya adalah minyak sawit dengan total luas lahan 29 juta ha, kemudian nomor 2 kedelai dengan luas lahan 130 juta ha, bunga matahari dengan luas lahan 30 juta ha, rapeseed dengan luas lahan 37 juta , minya nabati lain dengan luas lahan 113 juta ha.
Dari produksi minyak nabati dunia 205 juta ton penggunaan lahan perkapita sangat besar di Amerika Utara dan Selatan sampai 0,15 ha/kapita sedang Asia Tenggara sangat kecil 0,05 ha/kapita. Asia Tenggara menjadi lebih baik dan sustainable.
Indonesia punya data yang bagus soal lahan baik hasil survey, BPS dan Bappenas, menjadi alat yang sangat bagus untuk memahami lahan tropis. Data nasional sampai level desa sudah tersedia. Indonesia juga sangat bagus bisa dikataka top level untuk GIS, drone dan lain-lainnya.Banyak anak muda yang sangat terlatih dan termotivasi dalam bidang IT.
Masalahnya adalah bagaimana memadukan data-data tersebut, menghubungkan data dengan skala yang berbeda-beda untuk mengantisipasi dan merencanaka kedepan. Ini adalah seni yang tidak bisa dilakukan AI dan Big data untuk mengatasi risiko dan ketidakpastian kedepan.

