Jakarta, mediaperkebunan.id – Dampak pemberlakuan tarif resiprokal Trump 19% bagi perdagangan CPO Indonesia adalah potensi penurunan harga CPO, penurunan permintaan dari Amerika Serikat akibat tarif tinggi dapat menyebabkan penurunan harga CPO secara keseluruhan di pasar global. Petani sawit akan terdampak dengan penurunan harga TBS. Andrial Saputra, Kepala Bagian Bursa dan Pengembangan Bisnis Inacom KPBN menyatakan hal ini pada CEO Agro Forum yang diselenggarakan Media Perkebunan dan P3PI.
Potensi pergeseran market dan daya saing, importir AS mungkin akan beralih ke negara yang menawarkan harga lebih rendah seperti Malaysia dengan tarif 0% untuk menghindari tarif tinggi Indonesia.
Kinerja ekspor CPO turun , tarif 19% akan membuat harga CPO Indonesia lebih mahal di pasar Amerika Serikat sehingga berpotensi mengurangi daya saing produk Indonesia dan mendorong pembeli beralih ke pemasok lain, meskipun AS bukan pasar utama AS.
Pemerintah Indonesia berencana akan menyesuaikan bea keluar ekspor CPO untuk mengurangi beban tarif impor dari AS. Dampak lebih jauh kemungkinan pelaku industri akan mendorong pemerintah menurunkan levy dan duty. Penurunan kinerja ekspor dan harga CPO dapat mendorong perusahaan untuk mengurangi produksi dan tenaga kerja pada sektor perkebunan.
Indonesia bulan November memberlakukan tax untuk CPO USD124/ton dan levy USD96,38 sehingga total USD220,38. Sedang Desember tax USD74/mt dan levy USD 92,6142/MT USD166,6142/MT. “Eksportir tdak berharap harga CPO naik tinggi karena tax dan levynya ikut naik dan kalah bersaing,” katanya.
Kebijakan biodiesel berhasil apabila harga CPO jauh lebih murah daripada harga minyak bumi. Hal ini terjadi pada semester 2 2022, kuartal 1 2023 dan semester 2 2023. Perbedaan harga minyak sawit dan minyak bumi USD128,57/ton.
Tetapi sejak semester 2 2024 sampai semester 2 tahun 2025 harganya jauh lebih tinggi. Harga CPO KPBN USD840,32 ton sedang harga minyak bumi USD711,7/ton. Kondisi ini membuat biodesel menjadi tidak kompetitif.
Data 8 Pelabuhan utama China menunjukkan tanggal 14 November 2025 hampir di setiap Pelabuhan stok minyak nabati baik minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed melimpah sehingga peluang peningkatan permintaan dari China melemah, bahkan bisa turun.
Sedang di 16 pelabuhan utama India stok minyak nabati banyak menurun sehingga diperkirakan impor minyak sawit India akan rebound 20% pada tahun pemasaran baru , dengan harga yang kompetitif maka minyak tropis akan memperoleh pasarnya lagi.

