Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga CPO tahun 2026 sepanjang tahun akan menunjukkan kecenderungan kestabilan hingga sedikit menurun dengan kisaran harga RM4000-4200/MT. Namun pasar masih cukup sensitive terhadap 5 isu utamanya B50 dan perubahan iklim. Andrial Saputra, Kepala Bagian Bursa dan Pengembangan Bisnis Inacom KPBN menyatakan hal ini pada Agro Commodity CEO Forum yang diadakan media perkebunan.
Lima isu itu adalah disrupsi cuaca, ada potensi peningkatan produksi akibat cuaca yang baik, namun dalam 5 tahun terakhir gangguan cuaca membuat produksi defisit. Fluktuasi harga pesaing, adanya potensi panen baru minyak bunga matahari, dan kedelai diharapkan dapat mempengaruhi harga CPO secara signifikan dengan menyediakan pilihan alternatif.
Fundamental market dan defisit pasokan diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2025 dengan tingkat persediaan yang lebih rendah diperkirakan akan memperketat pasar. Fluktuasi kondisi makro ekonomi dengan berjalannya tarif resiprokal Trump, maka era perang dagang jilid 2 sudah dimulai akibat isu proteksionisme dagang, dan waspada terhadap kenaikan FFR (Federal Fund Rate).
Kebijakan biodiesel dan levy duty, potensi mandat biofuel B50 diawal 2026 serta fluktuasi perubahan levy duty masih menjadi fokus pasar selanjutnya. “Dari 5 isu utama ini yang sangat berpengaruh adalah disrupsi cuaca dan kebijakan biodiesel dan levy duty,” katanya.
IPOC 2025 menunjukkan harga CPO akan bulish karena ketatnya pasokan, kebijakan yang berani, dan kecenderungan harga naik, sentiment bullish menengah untuk tahun 2026. Julian McGill dari Gleanuk menyatakan industri sawit menghadapi ketidakpastian masa depan, pengambil alihan lahan dan kebijakan biofuel yang sangat agresif membuat investasi terhambat, pada Q1 harga diperkirakan RM4.300-4.400/MT.
Rasheed Jan dari Pakistan menyatakan impor minyak nabati Pakistan akan naik 12%, y/y 3,4-3,5 juta ton. Harga Desember 2025- Januari 2026 RM4.100-4.300/MT, Januari-Maret 2026 RM4.200-4.300/MT. M Fadhil Hasan (GAPKI) produksi CPO tahun 2026 y/y tumbuh 3-4%, tahun ni tumbuh 3-7%.
Thomas Mielke (Oil World) , produksi Indonesia tahun 2026 akan turun akibat pengambilan alihan lahan oleh Satgas PKH. Produksi diperkirakan akan turun menjadi 49 juta ton tahun 2026 dan semakin turun tahun 2027. Sekitar 1 juta ha yang diambil alih sangat berisiko tinggi terhadap produksi dan ekspor.
“Sedang Dorab Mistry dari Godrej sangat tidak masuk akal. Harga minyak sawit diperkirakan USD5.500/MT. Bulish kalau Indonesia terus mengambil alih lahan dan memaksanakan B50. Perlu ada tambahan kebun baru yang sustainable,” katanya
CPO KPBN yang merupakan bursa fisik selama ini menjadi patokan HPE. Banyak yang keberatan dan menaggap harga KPBN terlalu rendah dibanding bursa Malaysia (MDEX). Padahal sebelum ada levy tahun 2019 dan levy yang diterapkan minim beberapa kali harga KPBN dan MDEX overtake.
Andrial Saputra dalam CEO Forum mengatakan bahwa ketika tarif levy progresif diterapkan menimbulkan pelebaran gap. Tahun 2022 keputusan pelarangan ekspor CPO , harga MDEX dan KPBN terjadi koreksi harga, gapnya semakin melebar. Levy yang berubah Mei 2025 membuat spread yang melebar. Tanggal 21 November harga KPBN USD880/MT sedang MDEX USD977. Kalau diekspor maka harga minyak sawit Indonesia USD840 + USD220,38 menjadi USD1.060,38/MT, lebih mahal dari Malaysia.

