Jakarta, Mediaperkebunan.id – Pameran dan diskusi Indonesia Spices Business Forum and Expo (ISBFE) 2024 akan kembali dilaksanakan pada tanggal 8 – 11 Agustus 2024 yang berlokasi di Lapangan Pamedan Mangkunegara, Kota Surakarta. Acara internasional ISBFE 2024 ini merupakan acara kedua kalinya setelah berhasil dilaksanakan pada tahun 2021.
ISBFE 2024 merupakan pertemuan bisnis yang mengadakan diskusi dan pameran rempah terbesar di Indonesia. Pada tahun ini, ISBFE 2024 mengambil tema “Rebut Kembali Kejayaan Rempah Indonesia” sebagai bentuk pengingat akan pentingnya rempah-rempah bagi kehidupan masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam sambutannya, Miftah Farid selaku Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan mewakili Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional mengatakan bahwa platform ini dapat menjadi pemantik untuk membangun kembali kejayaan rempah di tanah air.
“Kami berharap dengan plantform ini kita bisa menumbuhkan kembali kejayaan rempah di tanah air,” ujar Miftah Farid.
Untuk mengembalikan kejayaan rempah dan bumbu Indonesia, Pemerintah juga telah menyiapkan program Indonesia Spice Up The World. Dengan konsep baru yang lebih komperhensif, program Indonesia Spice Up The World diharapkan dapat dilakukan oleh semua pihak dari pemerintah hingga swasta.
“Sekarang pemerintah Indonesia mempunyai program Indonesia Spice Up The World. Kita semua komite mempunyai konsep baru yang lebih komperhensif sehingga yang bergerak tidak hanya pemerintah, tapi pihak swasta juga ikut terlibat baik dari BUMN ataupun asosiasi,” terangnya.

Untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia, pemerintah mempunyai dua target yang perlu dicapai. Yang pertama adalah kenaikan ekspor rempah dan bumbu sebanyak USD 2 miliar dan yang kedua adalah memacu pertumbuhan restoran Indonesia di luar negeri sebanyak 4.000 restoran.
“Ada dua target yaitu yang pertama kenaikan ekspor rempah dan bumbu sebanyak 2 milyar USD. Posisi sekarang masih 800 juta – 1 miliar USD, jadi kita masih punya pekerjaan untuk bisa menambahkan nilai ekspor kita sebanyak 1 miliar. Target kedua mengaktivasi restoran Indonesia di luar negeri sebanyak 4.000. Pada data yang tersedia, saat ini jumlah restoran Indonesia di luar negeri masih sekitar 2.000. Oleh karenanya masih terdapat seperempat gap aktivasi restoran,” jelasnya.
Tak hanya itu, Kementerian Perdagangan juga mendirikan platform Rasa Indonesia sebagai wadah untuk mempromosikan restoran yang berada di luar negeri. Saat ini, Rasa Indonesia telah aktif dimanfaatkan di tiga negara yakni Singapura, Jepang, dan Taiwan.
Selain sebagai wadah promosi, platform ini diharapkan dapat membangun database sehingga dapat menciptakan ekosistem yang lebih baik. Dengan begitu, supplier – supplier rempah dan bumbu juga mendapatkan promosi dan dapat membantu memasok kebutuhan restoran Indonesia yang berada di luar.
“Terkait dengan insiasi dari kementerian perdagangan pada tahun 2022 kementerian perdagangan punya platform Rasa Indonesia. Platform untuk mempromosikan existing restoran yang ada di luar negeri. Platform ini selain sebagai promosi tetapi juga untuk membantu membangun database yang valid terkait data restoran di luar negeri.Tidak hanya restoran yang dipromote tetapi juga supplier – supplier rempah dan bumbu dapat support restoran Indonesia di luar negeri,” imbuhnya.
Data pada tahun 2024 menunjukkan bahwa ekspor rempah dan bumbu mengalami kenaikan sebesar 17% dari sisi penjualan dan sebesar 3% dari volumenya. Perbedaan besaran ini dipengaruhi oleh kenaikan harga rempah-rempah. Hal tesebut dapat dijadikan sebagai peluang positioning yang bagus bagi Indonesia untuk memberikan pasar dunia dengan rempah dan bumbu berkualitas dengan harga yang tinggi.
“Kalau bicara ekspor, memang tahun lalu ekspor kita menurun tetapi tahun ini ekspor bumbu dan rempah kita naik. adi dari data ini ada hal yang menarik jadi naik jualnya 17 % dari volumenya hanya 3%. Kemungkinan kenaikan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga rempah-rempah. Nah ini menjadi positioning Indonesia yang bagus kalau kita bisa support,” katanya.
Berbagai perjanjian perdagangan secara bilateral dan regional telah dilakukan Kementerian Perdagangan untuk meningkatkan ekspor non migas termasuk rempah dan bumbu. Kementerian Perdagangan juga gencar melakukan pendampingan pelaku usaha dengan melakukan sertifikasi food safety dan export clinic.
“Secara umum kementerian perdagangan terus berupaya untuk meningkatkan ekspor non migas termasuk untuk rempah-rempah. Yang pertama mungkin untuk scope yang lebih umum kita banyak buat perjanjian perdagangan dengan luar negeri baik bilateral maupun regional. Yang kedua emang yang menyentuh pelaku usaha secara umum kita membuat pendampingan terkait dengan sertifikasi food safety dan terkait dengan export clinic,” pungkasnya.

