Pekanbaru, mediaperkebunan.id – Cara mengatasi ganoderma yang dilakukan oleh PT Pelita Susun Bentang Organik (Pesuntani) sehingga membuat tanaman sawit yang hampir mati bisa sehat dan hidup kembali mampu mengundang minta para pelaku usaha, baik di tingkat petani, toke, hingga tingkat perusahaan.
Minat tersebut, kata Fery Harianja MSi selaku salah satu Direktur PT Pesuntani kepada Mediaperkebunan.id, Selasa (12/8/2025), tumbuh saat Pesuntani ikut pameran dan mendirikan stan dalam acara “Sawit Indonesia Expo and Conference (SIExpo)” yang diselenggarakan di Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, belum lama ini.
Sebagai informasi tambahan, Pesuntani adalah sebuah perusahaan konsultasi klinis untuk perkebunan, khususnya kelapa sawit, baik terkait konsultasi mengatasi ganoderma, pemupukan, mengatasi hama kumbang tanduk, atau pun konsultasi terkait cara meningkatkan kesuburan dan produktivitas sawit.
“Jadi, kalau ditotal, antusiasme pengunjung ke stan Pesuntani saat berlangsung acara selama tiga hari SIexpo tersebut cukup tinggi, ada lebih 300 orng pengunjung,” kata Fery Harianja.
“Mereka umumnya ingin tahu bagaimana cara mengatasi ganoderma di kebun sawit mereka.Nah, dari 300-an pelaku usaha, baik petani, toke, maupun perusahaan sawit, ada sekitar 10 persen yang menyatakan minta kerjasama dengan Pesuntani,” tambah Fery Harianja.
Pelaku usaha sawit itu , kata Fery Harianja, ingin tahu lebih banyak tentang cara mengatasi ganoderma ala Pesuntani yang telah terbukti di 23 perkebunan mampu menyembuhkan tanaman sawit yang sudah stadium 3 dan 4 karena terkena ganoderma.
Alumni Universitas Riau (UNRI) tersebut bahkan mengatakan, ada tiga perusahaan dan sejumlah toke sawit yang meningkatkan komitmen dengan Pesuntani menjadi rencana kerjasama dalam mengatasi ganoderma tersebut.
Melihat perkembangan tersebut, putra kelahiran kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini menjadi semakin yakin bahwa sesungguhnya problem ganoderma di perkebunan kelapa sawit membutuhkan perhatian yang sangat serius dari semua pihak.
“Termasuklah pemerintah dan pelaku usaha sawit itu sendiri. Karena, misalnya untuk perusahaan sawit, mereka bahkan kelabakan mengatasi ganoderma yang begitu masif. Kita semua harus bahu-membahu mengatasi ganoderma ini, enggak bisa sendiri – sendiri,” ucap Fery Harianja.
“Yakinlah, kalau tidak ditangani secara bersama sesegera mungkin, serangan ganoderma ini mampu membuat anjlok produktivitas tanaman sawit,” sambungnya lagi.
“Bayangkanlah bila setiap satu hektar (Ha) kebun sawit, ada 20 persen tanaman yang kena Ganoderma? Pasti anjlok produktivitas, dan petani atau perusahaan bisa rugi banyak,” tegas Fery Harianja.
Sekadar informasi, komitmen untuk memberantas ganoderma di perkebunan sawit telah dilakukan Fery Harianja bersama Dr Darmono Taniwiryono selaku Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) di berbagai sentra perkebunan selama beberapa tahun terakhir.
Termasuk di antaranya adalah menggelar Safari Ganoderma di berbagai kabupaten sentra sawit di Provinsi Riau dan Sumatera Utara (Sumut) beberapa waktu yang lalu. Kegiatan Safari Ganoderma itu dibentuk sepenuhnya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan sejumlah asosiasi petani kelapa sawit.

