Kalimantan Barat, mediaperkebunan.id – Sebagai bagian dari komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, Bumitama terus memperkuat langkah keberlanjutan melalui kolaborasi strategis dengan IDH (Inisiatif Dagang HIjau). Kolaborasi ini berfokus pada pengelolaan lanskap berkelanjutan di Kalimantan Barat, dengan pendekatan Production–Protection–Inclusion (PPI Compact) yang menyeimbangkan antara produktivitas, konservasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Sejak 2018, Bumitama dan IDH telah menjalankan berbagai inisiatif melalui Bumitama Biodiversity and Community Project (BBCP), yang mencakup konservasi hutan, peningkatan kapasitas petani kecil, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Pada tahun 2025, kemitraan ini berlanjut dengan peluncuran program Sekolah Desa Berdaya, yang bertujuan memperkuat kemampuan masyarakat desa dalam mengelola sumber daya alam secara produktif dan bertanggung jawab.

“Tanpa IDH, kami tidak akan memperoleh izin utama untuk mengelola area konservasi sebagai bagian dari izin operasional kami,” ujar Martin Mach, Head of Environmental Protection & Governance Bumitama. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan keberlanjutan operasional sekaligus perlindungan ekosistem di sekitar wilayah perkebunan Bumitama.
Melalui pendekatan PPI Compact, program ini dijalankan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terutama di koridor konservasi Gunung Tarak – Gunung Palung – Sungai Putri yang mencakup area seluas lebih dari 8.000 hektar. Implementasi sosialnya juga melibatkan desa-desa binaan Bumitama seperti Nanga Tayap, Simpang Dua, dan Kendawangan, dengan kegiatan yang mencakup penanaman pohon dan rehabilitasi lahan kritis, pelatihan agronomi berkelanjutan, pembentukan kelompok tani perempuan, pendampingan usaha mikro, serta penguatan tata kelola desa dan legalisasi lahan masyarakat.
Kolaborasi ini turut memberikan dampak nyata bagi masyarakat Kalimantan Barat. Hingga kini, sekitar 25.000 hektar hutan telah dikonservasi, dengan 60 pelatihan High Conservation Value (HCV) dan mitigasi kebakaran yang diikuti oleh 1.389 warga. Selain itu, 15 pelatihan pertanian kelapa sawit berkelanjutan telah menjangkau 469 petani kecil independen, dan 14 pelatihan alternatif mata pencaharian diberikan kepada 434 warga. Sebanyak 234 dokumen legalisasi lahan juga telah diterbitkan, serta sebagian area konservasi seperti Rimbak Sangiang kini dikembangkan sebagai ekowisata berbasis masyarakat.

“Tiga aspek produksi, proteksi, dan inklusi ini memang harus ada dalam setiap proyek yang kita kerjakan bersama mitra seperti Bumitama,” ujar Sacha Amaruzaman, Senior Program Manager IDH. “Kolaborasi IDH dan Bumitama di Ketapang dan Kalimantan Barat menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan lanskap dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berimbang.”
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, Bumitama dan IDH juga mengembangkan sistem pemantauan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat dan mitra lokal, serta didukung oleh pemerintah daerah. Melalui sinergi ini, Bumitama terus menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring menuju masa depan Kalimantan Barat yang lebih hijau, inklusif, dan berketahanan.

