Medan, mediaperkebunan.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ungkap seluruh ekspor minyak nabati meningkat sepanjang bulan Oktober 2024. Minyak nabati ini termasuk crude palm oil (CPO) beserta golongan lemak dan minyak nabai lainnya di Pelabuhan Belawan, Medan.
“Golongan barang yang mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar adalah golongan lemak atau minyak hewan dan atau nabati, termasuk CPO,” ungkap Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, kepada para wartawan di Medan, Senin (2/12/2024) sore.
Kenaikan ekspor semua jenis minyak hewan dan nabati ini sebesar US$53,28 juta atau naik 13,31 persen dari ekspor September 2024.
“Kenaikan ekspor ini juga termasuk golongan bahan kimia organik dengan kenaikan sebesar US$3,39 juta atau sebanyak 7,41 persen dari bulan September (month to month/mtm),” ujar Asim Saputra.
Secara keseluruhan BPS Sumut mencatat nilai ekspor melalui pelabuhan muat di wilayah Sumut sepanjang Oktober 2024 mengalami peningkatan. Pada September 2024 yaitu dari US$ 996,23 juta menjadi US$ 1.037,40 juta atau mengalami peningkatan sebesar 4,13 persen.
“Dan bila dibandingkan dengan nilai ekspor pada Oktober 2023 atau secara tahunan atau year on year (yoy), maka nilai ekspor Sumut mengalami peningkatan sebesar 9,39 persen,” beber Asim Saputra.
Yang menarik, pihaknya mencatat perbedaan hasil ekspor pada produk perkebunan tembakau yang mengalami penurunan sebesar US$ 5,99 juta atau minus 22,18 persen secara mtm pada September 2024.
Dominasi ekspor CPO dan minyak nabati dan hewani asal Sumut sepanjang Oktober 2024 adalah ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebesar US$ 162,50 juta.
Kemudian, ekspor ke negeri Paman Sam atau Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 107,33 juta dan India sebesar US$ 84,94 juta dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,20 persen.
“Dan menurut kelompok negara utama tujuan ekspor pada Oktober 2024, ekspor ke kawasan Asia atau di luar ASEAN merupakan yang terbesar dengan nilai US$ 404,78 juta atau 39,02 persen,” tutur Asim Saputra lebih lanjut.
Petani Sawit Sumut Menikmati Hasil Ekspor yang Meningkat
Berdasarkan catatan BPS Sumut tersebut, pekebun termasuk petani sawit menikmati peningkatan ekspor minyak nabati dan hewani pada bulan Oktober 2024.
Asim Saputra ungkap hal tersebut terlihat dari naiknya nilai tukar petani, (NTP), termasuk nilai tukar perkebunan rakyat (NTPR) sepanjang bulan November 2024.
Sebagai informasi, NTP adalah perbandingan indeks harga yang petani terima (It) terhadap indeks harga yang petani bayar (Ib).
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.
NTP juga menunjukkan daya tukar atau terms of trade dari produk pertanian dengan barang dan jasa konsumsi maupun untuk biaya produksi.
BPS mencatat pada November 2024, NTP Sumut sebesar 145,77 atau naik 3,10 persen dari NTP Oktober 2024, yaitu sebesar 141,39.
Kenaikan NTP November 2024 karena naiknya NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat, termasuk kelapa sawit, sebesar 5,42 persen.
Sementara itu, NTP empat subsektor lainnya justru mengalami penurunan. NTP subsektor tanaman pangan sebesar 0,75 persen dan NTP subsektor hortikultura sebesar 1,43 persen. Kemudian, NTP subsektor peternakan sebesar 0,25 persen, dan NTP subsektor perikanan sebesar 0,11 persen.
Terakhir, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Sumut pada November 2024 sebesar 144,49 atau naik sebesar 3,37 persen dari NTUP bulan sebelumnya.

