Pasir Pengaraian, mediaperkebunan.id – Pelatihan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit (SDM-PKS) yang didanai oleh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Kemudian didapatkan pula rekomendasi teknis dari Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementan, yang diselenggarakan oleh PT BPI (Best Planter Indonesia) berlangsung tanggal 11 – 15 Agustus 2025 di Hotel Bono, kota Pekanbaru.
Peserta pelatihan tersebut, seperti keterangan resmi yang diperoleh Mediaperkebunan.id, Kamis (21/2020) berasal dari Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi RiU.
Jumlah pesertanya adalah sebanyak 154 orang, dan kemudian dibagi menjadi lima kelas pelatihan. Peserta dilatih mengenai teknis budidaya kelapa sawit, mulai dari persiapan lahan, pembibitan, pembukaan lahan dan penanaman, pemeliharaan tanaman.
Termasuk di dalamnya adalah tentang materi pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pelatihan ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat (PR) 2,4 ton per Ha) CPO, agar menyusul produktivitas perkebunan besar swasta (PBS) 3,3 ton per ha CPO.
Serta menyusuri perkebunan besar Negara (PBN) 3,9 ton per Ha CPO. Ke depan, kata dia, pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas nasional mencapai 6 ton per hektarha CPO, atau rendemen 24% dan yield 25 ton per ton a TBS (Tandan Buah Segar).
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Bapak Dr. Syahrial Abdi AP M.Si dalam sambutannya di pembukaan pelatihan menyampaikan bahwa perkebunan kelapa sawit ini adalah bisnis yang sesuai untuk masyarakat Rokan Hulu khususnya, dan masyarakat Riau umumnya.
Ketika berkebun sawit sendiri-sendiri, maka petani l bukanlah siapa-siapa. Oleh sebab itu, pekebun sawit bergabunglah dengan sesama pekebun membentuk kelompok tani (Poktan).
Poktan bergabung sesama Poktan membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan). Gapoktan bergabung dengan Gapoktan membentuk Koperasi. Dengan bersama-sama, semua petani menjadi hebat.
Dengan bersama-sama, pekebun memiliki posisi tawar yang lebih baik terkait harga jual TBS, harga beli pupuk dan obat-obatan, mengatasi permasalahan dikebun sawit, terkait permodalan dan akses fasilitas dari pemerintah.
Kadis Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hulu, Cristian Agung Nugroho, STP MM. menyampaikan awal pertama kali sawit masuk di Provinsi Riau adalah di Kabupaten Rokan Hulu melalui program PIRBUN tahun 1987.
Saat ini luas kebun kelapa sawit di Kabupaten Rokan Hulu mencapai 450.000 ha dari luas kabupaten 740.000 ha atau mencapai 61%. Kelapa sawit menjadi sektor usaha andalan bagi masyakarat Rokan Hulu.
Sejalan dengan Kadisbun Provinsi Riau dan Kadisnakbun Kabupaten Rokan Hulu, Direktur Operasional BPI Bp. Friyandito,SP. MM menyampaikan bahwa goal dari pelatihan SDMPKS ini adalah peserta bertambah yakin dan bertambah semangat untuk meningkatkan produktivitas kebun sawitnya.
“Yaitu yaitu standarnya 25 ton/ha TBS, syukur mencapai 30 ton per hektar per ,haha TBS. Oleh sebab itu, peserta banyak-banyaknya bertanya dan berdiskusi dengan para narasumber, baik saat dikelas maupun saat kunjungan lapang. Bersama-sama kita wujudkan target pemerintah diatas yaitu 6 ton/ha CPO,” tegas Christian Agung

