Bandung, mediaperkebunan.id – Dalam gelaran 3rd Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2025 yang berlangsung di Bandung, Mohammad Alfansyah selaku Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Badan Pengelola Dana Perkebuna (BPDP), menegaskan pentingnya integrasi program hulu dan hilir serta pemanfaatan dana pungutan ekspor secara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas industri sawit nasional.
Alfansyah menyebut bahwa Indonesia masih memegang posisi sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, menyumbang sekitar 59% dari total produksi global. “Jauh di atas negara-negara lain. Karenanya, mau tidak mau marketnya hidup, harga mungkin akan mengekor, dunia pasti akan mengekor, termasuk Malaysia,” ujarnya saat sesi pemaparan.
Namun, ia juga menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi industri ini, termasuk isu negatif global terkait penggunaan lahan dan keberterimaan produk sawit di pasar luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah terus meningkatkan konsumsi domestik sebagai langkah antisipatif, salah satunya melalui program biodiesel.
“Kita menjaga agar jangan sampai sawit kita menjadi berlebih dan tidak terserap di pasar dunia, dan pasarnya menjadi turun. Oleh karena itu, pemerintah sejak tahun 2017 mulai meningkatkan pemanfaatan lebih besar. Konsepnya menjaga sawit tetap termanfaatkan,” jelas Alfansyah.
Dana Hulu
Dalam paparannya, Alfansyah menekankan bahwa dana hasil pungutan ekspor digunakan untuk mendukung berbagai program strategis, terutama Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). “Yang paling penting adalah untuk pembiayaan PSR. Peremajaan sawit adalah sesuatu yang setiap tahun tidak boleh tidak ada kegiatannya. Kalau tidak ada penambahan kebun baru, produksinya bisa menurun,” tegasnya.
Program PSR melalui jalur kemitraan juga terus didorong, di mana sejak 2023 telah disalurkan dana untuk lebih dari 20.000 hektar, dengan 2.404 hektar di antaranya merupakan jalur kemitraan. Respon petani pun dinilai positif. “Melalui program kemitraan usaha, ternyata respon petani cukup bagus, dengan bermitra dengan perusahaan yang ada, usulan mengenai replanting lebih banyak,” tambahnya.
Selain PSR, dukungan BPDP juga mengalir ke program sarana dan prasarana pertanian, yang hingga saat ini telah mencapai lebih dari Rp129 miliar dan tersebar di 12 provinsi. Dana tersebut diberikan kepada petani kecil melalui rekomendasi dari Ditjen Perkebunan.
Dana Hilir
BPDP juga menjalankan program riset dan pengembangan untuk mendukung industri hilir kelapa sawit. Sejak awal program, telah dilakukan 406 kontrak penelitian dengan 96 lembaga litbang. Namun, Alfansyah menyoroti pentingnya orientasi riset terhadap kebutuhan industri. “Jangan sampai 406 kontrak yang kami hasilkan hanya terkumpul di perpustakaan. Kalau industri dan praktisinya yang menyampaikan kebutuhannya terlebih dahulu, nanti kalau penelitiannya sudah jadi tidak perlu mencari mitra industri,” ungkapnya.
Kepala Divisi Riset Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Arfie Thahar dalam wawancaranya bersama Media Perkebunan pun menjelaskan bahwa waktu seleksi proposal penelitian BPDP dilakukan di awal tahun dalam jangka waktu sekitar hampir 8 bulan.

“Jadi penelitian-penelitian yang sedang berjalan itu hasil dari yang proses seleksi tahun 2024 lalu. Di tahun 2025 ini kita juga melakukan seleksi yang diharapkan nanti akan mendapatkan riset-riset yang kita danai untuk tahun 2026,” jelas Arfie.
Riset yang didanai oleh BPDP ada tujuh, di antaranya bioenergy, biomaterial, pangan, kesehatan, budidaya (pasca panen dan pengolahan dari panen sampe masuk pabrik itu bagaimana), lingkungan, sosial ekonomi termasuk teknologi komunikasi dan informasi.
“Tahun ini yang sedang berjalan ada di bidang bioenergy yaitu untuk menciptakan teknologi yang lebih murah, bagus, dan penelitian tentang pengganti bioetanol yang selama ini banyak dilakukan. Lalu di bidang budidadya, yaitubagaimana kita membuat tanaman yang tahan terhadap ancaman kekeringan maupun ganoderma,” jelasnya.
Untuk memastikan kinerja risetnya maksimal, BPDP kerap menggandeng para pelaku industri agar terjalin kerjasama optimal ke depan.
Program beasiswa juga menjadi bagian dari pengembangan SDM, dengan total lebih dari 5.000 mahasiswa telah menerima dukungan penuh dari BPDP. “Uang hidup dan uang buku. Kegiatan-kegiatan kampus full di-support sampai wisuda,” kata Mohamad Alfansyah dalam materinya.
Alfansyah juga menyampaikan bahwa BPDP terus melakukan evaluasi agar seluruh program tepat sasaran, salah satunya dengan memberikan kontribusinya dalam 3rd TPOMI 2025 ini. “Kami sebenarnya ingin mendapatkan feedback yang lebih agar dana-dana yang dimiliki BPDP bisa tepat sasaran. Jangan sampai dana yang kita sampaikan tidak bermanfaat lebih. Dana kita memang pasti bermanfaat, tapi bisa lebih dimanfaatkan,” ujarnya terkait keikutsertaan BPDP dalam TPOMI.
Dalam wawancaranya bersama Media Perkebunan, iapun menutup dengan penegasan pentingnya menjaga keseimbangan antara hulu dan hilir. “Jangan sampai terlena masalah hilirisasi tetapi hulunya tidak di-support. Pabrik kelapa sawit sudah banyak dan semakin bertambah, dari kebunnya pun juga harus diperhatikan,” pungkasnya.

