Jakarta, mediaperkebunan.id – Amsari M Setiawan, dari Direktorat Perubahan Iklim, Deputi Bidang Klimatologi, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyatakan prediksi El Nino 2026. Hasil monitoring pada dasarian III Maret 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (Indek IOD bulanan) -0,614 mengindikasikan fase netral. Indeks ENSO dasarian +0,08 menunjukkan ENSO berada pada fase netral.
Amsari menyatakan hal ini pada Online Training “Antisipasi Dampak El Nino Pada Penurunan Produktivitas Sawit“ yang diadakan Perkumpulan Praktisi Perkebunan Profesional Indonesia (P3PI) bersama Media Perkebunan. BMKG dan beberapa pusat iklim dunia memprediksi ENSO akan netral hingga pertengahan tahun 2026 lalu berpeluang bertransisi ke El Nino semester 2 2026. El Nino memiliki dampak yang bervariasi terhadap curah hujan di Indonesia. Tergantung tempat dan periode waktu kejadian.
Analisis curah hujan Maret 2026, wilayah Indonesia pada kriteria menengah (69,63% wilayah), dengan sifat hujan bawah normal (51,23%) dan normal (29,97%). Hingga dasarian III Maret 2026 , 7% wilayah Indonesia (49 Zona Musim , ZOM) mengalami musim kemarau, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, NTB, NTT, Maluku, Papua Barat; sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara. Curah hujan Indonesia pada April-September 2026 diprediksi pada kategori rendah-menengah dengan sifat hujan normal-bawah normal.
Awal musim kemarau 2026 umumnya diprediksi April 2026 (114 ZOM, 16,3%), Mei 2026 (184 ZOM,26,3%), Juni 2026 (163 ZOM,23,3%). Dibanding dengan normalnya awal musim kemarau 2026 diprediksi maju 325 ZOM (46,5%), Normal 245 ZOM (35,1%), atas normal 3 ZOM (0,4%).
Puncak musim kemarau 2026 umumnya diprediksi Juli 2026 (88 ZOM, 12,6%), Agustus 2026 (429 ZOM,61,4%), September 2026 (100 ZOM, 14,3%). Dibanding normalnya durasi musim kemarau 2026 umumnya lebih panjang (400 ZOM, 57,2%), sama (85 ZOM, 12,2%), lebih pendek (101 ZOM, 14,4%).
Marlon Sitanggang dari P3PI menyatakan El Nino tahun 2016 yang merupakan El Nino kuat membuat produksi sawit Indonesia turun 4,4% dari 32,5 juta ton tahun 2015 jadi 31,07 ton. Sedang Malaysia turun 13,2% dari 19,96 juta ton jadi 17,32 juta ton.
Tahun 2020 dampaknya ringan produksi Indonesia turun 900.000 ton (0,2%) dari 47,2 juta ton tahun 2019 jadi 47,03 juta ton. Sedang Malaysia turun 720.000 ton (3,6%) dari 19,86 juta ton jadi 19,14 juta ton.
Sentra produksi sawit di Indonesia:
- Riau tahun 2016 turun 250.000 ton (6,4%) dari 3,9 juta ton jadi 3,365 juta ton; 2020 turun 200.000 ton (4,3%) dari 4,6 juta ton jadi 4,4 juta ton; 2024 turun100.000 ton (2%) dari 5,1 juta ton jadi 5 juta ton.
- Kalteng tahun 2016 turun 150.000 ton (4,3%) dari 3,45 juta ton jadi 3,3 juta ton; 2020 turun 100.000 ton (2,4%) dari 4,15 juta ton jadi 4,1 juta ton 2024 turun 45.000 ton (1%) dari 4,6 juta ton jadi 4,55 juta ton.
- Kalbar tahun 2016 turun 250.000 ton (6,4%) dari 3,95 juta ton jadi 3,65 juta ton; tahun 2020 turun 200.000 ton (4,3%) dari 4,6 juta ton jadi 4,4 juta ton; tahun 2024 turun 100.000 ton (2%) dari 5,1 juta ton jadi 5 juta ton.
- Sumut tahun 2016 turun 250.000 ton (5,5%) dari 4,55 juta ton jadi 4,3 juta ton; tahun 2020 turun 200.000 ton (3,8%) dari 5,2 juta ton jadi 5 juta ton; 2024 turun 100.000 ton (1,8%) dari 5,6 juta ton jadi 5,5 juta ton.
- Sumsel tahun 2016 turun 200.000 ton (7%) dari 2,85 juta ton jadi 2,65 juta ton; tahun 2020 turun 200.000 ton (5,9%) dari 3,4 juta ton jadi 3,2 juta ton; 2024 turun 100.000 ton (2,6%) dari 3,85 juta ton jadi 3,75 juta ton.
- Jambi tahun 2016 turun 100.000 ton (5,6%) dari 1,8 juta ton jadi 1,7 juta ton; 2020 turun 100.000 ton (4,8%) dari 2,1 juta ton jadi 2 juta ton; 2024 turun 50.000 ton (2,1%) dari 2,35 juta ton jadi 2,3 juta ton.

