Jakarta, mediaperkebunan.id – Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan salah satu limbah biomassa terbesar dari industri kelapa sawit Indonesia yang sangat melimpah volumenya. Untuk setiap ton TBS (Tandan Buah Segar) yang diolah di pabrik kelapa sawit (PKS), dihasilkan sekitar 22–25% TKKS, atau setara dengan 0,22–0,25 ton. Berdasarkan data FAO (2024), produksi TBS Indonesia mencapai sekitar 256 juta ton per tahun, sehingga potensi TKKS nasional diperkirakan mencapai 56–64 juta ton per tahun.
Selama ini, sebagian besar TKKS segar oleh pekebun hanya dimanfaatkan secara langsung sebagai mulsa atau penutup tanah dengan cara disebarkan di bawah tanaman belum menghasilkan (TBM) dan Tanaman menghasilkan (TM), dengan dosis sekitar 20–45 ton per hektar per tahun. Praktik ini bermanfaat, tetapi dekomposisinya lambat dan unsur haranya tidak langsung tersedia bagi tanaman, serta memerlukan logistik yang tidak efisien. Di samping itu, tersimpan bahaya tersembunyi, potensi tumpukan TKKS dapat menjadi site breeding kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros), salah satu hama berbahaya bagi tanaman kelapa sawit.
Potensi Pemanfaatan Biochar
Kini, dengan kemajuan teknologi termal, TKKS dapat diolah menjadi biochar melalui proses pirolisis — pemanasan bahan organik pada suhu 350–600°C dalam kondisi minim oksigen. Proses ini akan menghasilkan tiga fraksi utama: padatan (biochar), cairan (bio-oil), dan gas (syngas). Dari setiap ton TKKS kering, dapat dihasilkan sekitar 200–300 kg biochar, tergantung pada kadar air dan efisiensi proses.
Teknologi ini kini tersedia dalam berbagai skala dan dapat diterapkan di sentra produksi kelapa sawit baik oleh koperasi petani, PKS, maupun pelaku industri hilir. Dengan nilai kalor sekitar 20–25 MJ/kg, biochar juga berpotensi digunakan sebagai bahan bakar padat atau briket pengganti batu bara kelas rendah.
Dalam bidang pertanian, biochar dari TKKS memiliki keunggulan yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan TKKS segar. Struktur pori biochar mampu meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, memperbaiki retensi air, dan mendukung aktivitas mikroba menguntungkan.
Aplikasi biochar di lahan sawit dengan dosis 5–10 ton/ha/tahun dapat memberikan manfaat agronomis setara atau bahkan lebih tinggi daripada 40 ton/ha TKKS mentah, dengan volume dan beban logistik yang jauh lebih rendah. Selain itu, biochar dapat dikombinasikan dengan kompos atau pupuk organik lain untuk meningkatkan efisiensi serapan unsur hara dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Pemanfaatan Lainnya
Dari TKKS yang dikonversi menjadi biochar, pemanfaatan dapat diperluas ke sektor energi dan lingkungan. Di sektor energi, biochar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa padat atau pencampur bahan bakar untuk boiler (co-firing) pada industri semen, pembangkit listrik berbasis biomassa dan industri lainnya.
Di sektor lingkungan, sifat adsorptif biochar menjadikannya bahan penyaring yang efektif untuk pengolahan air limbah, remediasi logam berat, hingga penjernihan air. Dari sisi mitigasi iklim, setiap ton biochar yang dimasukkan ke tanah menyimpan sekitar 2,5–3 ton CO₂ ekuivalen, yang dapat diklaim sebagai kredit karbon dalam pasar karbon sukarela (voluntary carbon market), dengan potensi nilai ekonomi antara USD 5–30 per ton CO₂.
Jika dibandingkan dengan praktik konvensional aplikasi TKKS segar, yang nilai ekonominya terbatas pada penghematan pupuk sekitar Rp 300.000–600.000 per hektare (USD 19 – 38 per hektare), konversi TKKS menjadi biochar membuka peluang ekonomi jauh lebih besar.
Selain potensi pendapatan dari produk biochar dan efisiensi pertanian, terdapat juga potensi bisnis dari penjualan energi, penjualan produk adsorben, hingga jual-beli kredit karbon. Transformasi ini mengubah paradigma: dari sekadar limbah organik menjadi komoditas strategis yang menopang pertanian berkelanjutan, transisi energi terbarukan, dan kontribusi konkret terhadap dekarbonisasi nasional.
Selain itu, masih ada potensi lain dari pemanfaatan TKKS, yakni dikonversi menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) menggunakan teknologi Fischer-Tropsch (FT) salah satu jalur teknokogi yang diakui ASTM, yakni dengan mengubah TKKS menjadi gas sintesis dan selanjutnya bahan bakar jet (Bioavtur/SAF). Pendekatan ini akan mendukung pengurangan emisi sektor aviasi sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah sawit.
Selama ratusan tahun, TKKS hanya dianggap sebagai limbah—ditinggalkan membusuk di bawah pohon, tak pernah benar-benar dilihat sebagai sumber kehidupan baru. Padahal di dalamnya tersimpan potensi perbaikan kesehatan tanah, penguatan efisiensi pupuk, bahan bakar energi, dan bahkan jejak karbon untuk keberlanjutan sawit dan pertanian di masa depan.
Mungkin kini saatnya kita berhenti memperlakukan limbah sebagai beban, dan mulai menjadikannya sebagai produk bernilai. Karena di balik warna biochar yang abu menghitam, ada harapan yang menyala—untuk bumi yang lebih lestari, untuk petani yang lebih sejahtera, dan untuk sawit Indonesia yang lebih bermartabat.
Ditulis oleh: Dimas H Pamungkas – Oil Palm Senior Researcher IPOSS

