Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kelapa Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Di tengah lonjakan permintaan pasar domestik dan ekspor, komoditas yang dijuluki “tanaman kehidupan” ini justru menghadapi ancaman penurunan produktivitas akibat dominasi pohon-pohon tua yang tidak lagi produktif.
Menyikapi tantangan ini, Pemimpin Umum Media Perkebunan sekaligus Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016–2018, Ir. Bambang, M.M., menegaskan bahwa penyediaan benih berkualitas merupakan titik penentu (titik krusial) keberhasilan program hilirisasi kelapa Indonesia yang tengah dicanangkan pemerintah.
“Kelapa adalah tanaman jangka panjang. Ketika kita salah memilih benih hari ini, dampaknya baru akan terasa 5 hingga 6 tahun ke depan, dan itu sangat merugikan masyarakat, terutama para petani,” ujar Bambang dalam sambutannya pada webinar talkshow yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan, Rabu (3/6/2026).
Komitmen Anggaran Pemerintah Terbesar Sepanjang Sejarah
Bambang mengapresiasi langkah konkret Presiden Prabowo Subianto yang secara tegas memberikan ruang bagi pengembangan kelapa hingga ke sektor hilir demi memberikan nilai tambah ekonomi yang tinggi. Komitmen ini disambut baik oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melalui pengalokasian anggaran perkebunan yang sangat besar.
“Sepanjang sejarah perkebunan, baru tahun 2025–2026 ini Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran yang begitu besar untuk memberikan dukungan kepada perkebunan secara umum, dan secara khusus kepada pengembangan kelapa,” ungkapnya.
Langkah ini dinilai sangat tepat mengingat potensi kelapa Indonesia yang sangat besar. Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen kelapa terbesar dunia melampaui Filipina, serta menjadi penyumbang devisa negara yang signifikan setelah sawit, karet, dan kakao. Sektor ini juga menjadi tumpuan hidup bagi lebih dari 5,5 juta petani kelapa yang aktif di seluruh penjuru negeri.
Penurunan Luas Lahan dan Produktivitas
Meski memiliki potensi masif, data statistik menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Bambang memaparkan, luas lahan kelapa nasional menyusut sekitar 300 hingga 400 ribu hektar dalam kurun waktu satu dekade terakhir.
“Potensi nasional kita saat ini ada di angka 3,3 juta hektar. Ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2016 yang masih berkisar antara 3,6 hingga 3,7 juta hektar,” jelas Bambang.
Sejalan dengan penyusutan lahan, angka produksi kelapa secara kopra juga merosot dari di atas 3 juta ton per hektar pada periode 2016–2017 menjadi hanya 2,8 juta ton berdasarkan data statistik tahun 2025.
Dua Strategi Pengadaan Benih: Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Untuk mengejar ketertinggalan dan mempercepat (akselerasi) pengembangan kelapa, Bambang menawarkan dua strategi utama dalam pengelolaan benih unggul:
- Strategi Jangka Panjang (Pendekatan Ilmu & Teknologi): Mendorong pemerintah, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi untuk memproduksi benih bermutu melalui teknologi tinggi, seperti kultur jaringan somatik embriogenesis dan rekayasa varietas baru. Bambang juga menyoroti perlunya menghidupkan kembali potensi kebun eks-kelapa hibrida (seperti di Nias) untuk dilakukan proses hibridasi ulang menggunakan unggulan lokal.
- Strategi Jangka Pendek (Jalan Pintas Konvensional): Mengajak dunia usaha dan masyarakat untuk melakukan penilaian dan identifikasi terhadap Pohon Induk Terpilih di sentra-sentra perkebunan rakyat. Pohon yang terbukti berbuah bagus sepanjang tahun diberi tanda, dilaporkan ke dinas terkait, ditetapkan melalui SK Direktorat Jenderal Perkebunan, lalu dibiayai pemeliharaannya oleh negara.
“Ini adalah jalan pintas. Jika kelapa dari perkebunan rakyat dipelihara dan dipupuk dengan baik, kita bisa mencapai produktivitas 3 hingga 4 ton. Saat ini rata-rata produktivitas nasional kita baru 1 ton,” tambah Bambang.
Peluang Bisnis Global yang Menjanjikan
Di akhir sambutannya, mantan Kepala Badan Karantina Pertanian ini mengingatkan bahwa seluruh bagian dari komoditas kelapa memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan tidak ada yang terbuang (zero waste). Saat bertugas di Badan Karantina, ia menyaksikan tingginya permintaan ekspor dari negara-negara luar, seperti Amerika Serikat yang mengimpor air kelapa kemasan galon, hingga pasar Cina yang terbuka lebar untuk produk butiran maupun hilir kelapa.
Namun, ia menyayangkan kondisi di lapangan di mana masyarakat saat ini masih kesulitan mencari bibit kelapa berkualitas, bahkan kerap terjadi mobilisasi benih ilegal yang tidak jelas asal-usulnya. Oleh karena itu, ia mendesak agar seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun pelaku usaha agar tidak hanya berpangku tangan kepada pemerintah, tetapi ikut turun tangan menangkap peluang bisnis penyediaan benih ini.
“Peluang pasar ke depan sangat menjanjikan. Sinergi dalam webinar ini harus menjadi wadah konkret untuk memberikan masukan kepada pemerintah agar dapat mengawal penyediaan benih yang bermutu demi masa depan kelapa Indonesia,” pungkasnya.

