24 April, 2017

Pembangunan perkebunan merupakan bentuk investasi jangka panjang. Tanpa adanya perencanaan yang matang, khususnya terkait penyediaan benih maka investasi tersebut akan gagal mencapai angka ROI yang tinggi.

Direktur Perbenihan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Muhammad Anas, mengatakan bahwa paradigma pengembangan perkebunan ke depan harus didasarkan pada paradigm yang tepat. Semuanya berasal dari benih yang baik. Dimana penggunaan benih unggul berkontribusi sebesar 40 persen terhadap keberhasilan pertanaman.

Itu sebabnya ke depan perencanaan pengembangan perkebunan tidak semata-mata didasarkan pada potensi lahan melainkan ketersediaan benih. Oleh sebab itu dalam alokasi dukungan pusat terhadap daerah kegiatan peremajaan atau perluasan, ketersediaan benih menjadi faktor penentu luasan.

“Ini menjadi keuntungan bagi daerah yang serius mengembangkan industri perbenihannya. Provinsi yang terbukti telah mengembangkan kebun sumber benih hingga ditetapkan, membina produsen benih secara konsisten sehingga tumbuh menjadi kelembagaan usaha yang mandiri adalah yang paling berpeluang mendapatkan dukungan pusat terkait pengembangan komoditas,” jelas Anas.

Selain menyangkut kuantitas, penyediaan benih juga harus dirancang secara strategis. Benih juga berkontribusi terhadap daya saing perkebunan nasional. Saat ini, kata Anas, penggunaan benih tidak sekedar untuk mendapatkan produksi tinggi namun juga kepada kebutuhan yang lebih luas. Apakah itu ketahanan terhadap hama, cekraman lingkungan, serta mutu hasil yang spesifik.

Contohnya pada komoditas kelapa sawit. “Ke depan Indonesia tidak hanya membutuhkan varietas yang memiliki produksi tinggi namun juga yang memiliki ketahanan terhadap ganoderma, memiliki kandungan beta karoten tinggi serta dapat mencapai kandungan minyak tinggi meskipun di tanam di lahan marginal,” harap Anas.

Oleh sebab itu, Anas berharap pusat penelitian dan lembaga riset baik milik pemerintah atau swasta dapat menciptaan inovasi strategis dalam kaitan hal tersebut. “Jadi saya berjanji selama menjabat akan memberikan ruang bagi adopsi teknologi baru serta melakukan berbagai deregulasi mengakselerasi pengembangan perbenihan,” janji Anas.

Sementara itu Hindarwati, Sekretaris Jenderal Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), menyambut baik usulan Anas. Sebab selama ini daerah kurang serius dalam mengembangkan perbenihan.

“Adapun fokusnya lebih pada fisik namun tidak mendorong industri benih tumbuh melalui penguatan kelembagaan. Sehingga yang terjadi, ketika ada alokasi anggaran besar akhirnya terjadi kondisi langka benih,” harap Hindrawati.

Artinya, menurut Hindrawati, “produsen benih kecil harus diberdayakan dan dikembangkan agar bisa membangun bisnis dengan skala yang menguntungkan. Membangun kebun induk saja tidak cukup. Perlu pengelolaan yang profesional dan ini terkait dengan sumber daya manusia (SDM) serta kelembagaan petani”. YIN

(Visited 225 times, 1 visits today)