Banda Aceh, mediaperkebunan.id – Sudah 15 tahun Kamisan berkebun sawit. Namun petani asal Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh tersebut baru tahu ada jarak tanam kelapa sawit yang sudah baku, terstandarisasi, dan terbukti berhasil.
Hal itu diungkapkan Kamisan secara jujur di Ayani Hotel Banda Aceh, saat mengikuti pelatihan budidaya sawit yang diselenggarakan oleh IPB Training dan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan)
“Sudah 15 tahun saya berkebun, tapi baru sekarang mendapatkan pelatihan seperti ini,” kata Kamisan dalam pelatihan yang berlangsung mulai 21-25 Juli 2025 dan diikuti oleh 84 petani kelapa sawit dari dua kabupaten di Provinsi Aceh, yaitu Aceh Tamiang dan Aceh Timur, tersebut..
“Selama ini kami hanya menanam berdasarkan kebiasaan, tanpa ilmu dan ukuran yang pasti. Bahkan jarak tanam pun tidak beraturan, kadang 8×8 meter,” ucap Kamisan lagi seperti keterangan resmi yang diterima Mediaperkebunan.id, Sabtu (26/7/2025).
Dari pelatihan itu dirinya baru tahu ada standar tanam sawit yang ideal, yaitu menggunakan pola mata lima dengan ukuran 9×9 meter.
Kamisan juga mengakui bahwa hasil panen yang selama ini hanya mencapai 300–500 kilogram (Kg) per bulan yang disebabkan oleh pola perawatan dan pemupukan yang tidak terencana.
Setelah mengikuti pelatihan, Kamisan mulai memahami pentingnya penggunaan bibit unggul, teknik pemeliharaan tanaman, dan waktu pemupukan yang tepat.
“Alhamdulillah, pelatihan ini membuka wawasan kami,” tambahnya.
Ia mengakui para trainer dari IPB Training, termasuk sangat terinspirasi dari Dr Ir Hariyadi MS yang memaparkan tiga jurus kunci sukses budidaya sawit
Hal senada disampaikan oleh Sufrio, perwakilan kelompok petani dari Aceh Timur, yang mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan ini dan berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan secara berkelanjutan.
“Program ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu bagaimana menjadi petani sawit yang berkelanjutan. Mudah-mudahan tahun depan bisa ada lagi,” ungkap Sufrio.
Selama pelatihan, kata Sufrio, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga dibekali praktik langsung di lapangan.
Materi yang disampaikan mencakup teknik pembibitan, penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Semua disampaikan secara terstruktur oleh tim IPB Training.
Pelatihan ini menunjukkan bahwa pendampingan teknis kepada petani, terutama untuk komoditas strategis seperti kelapa sawit.
Diketahui kalau ternyata masih sangat dibutuhkan pelatihan demi meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani rakyat di Aceh.
Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen BPDP dan IPB Training dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) kelapa sawit yang profesional dan siap menghadapi tantangan industri ke
depan.

