Simalungun, mediaperkebunan.id — Setelah dua hari membahas strategi pengendalian Ganoderma dan tantangan produktivitas sawit dalam forum ilmiah, peserta 3rd ISGANO 2026 mendapat kesempatan melihat langsung implementasi teknologi dan praktik terbaik di lapangan melalui field trip ke Kebun Laras PTPN IV Regional 2 bersama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Kunjungan yang berlokasi di Blok 22Q ini menjadi ajang pembelajaran langsung mengenai pengelolaan kebun, inovasi benih, hingga teknologi pendukung peningkatan produktivitas. Kebun Laras sendiri memiliki luas sekitar 4.000 hektare dan operasionalnya termonitor langsung hingga ke kantor pusat di Jakarta.
Dalam sambutannya, Arfi Damayanti selaku Manajer Kebun Laras menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta ISGANO 2026 dan berharap kunjungan ini menjadi ruang berbagi pengalaman yang membawa manfaat bersama.
“Kami berharap banyak hal positif yang bisa dipetik dari kunjungan ini, baik dari sisi teknis maupun manajerial,” ujarnya.
Asisten Kepala (Askep) Agustino memaparkan praktik pengelolaan TBM Prima di Kebun Laras, yang mampu memasuki umur panen pada 26 bulan. Bibit yang digunakan antara lain PPKS 540 NG dengan tahun tanam 2021, melalui proses seleksi dan pengawasan ketat sejak awal.

Ia menjelaskan adanya perbedaan pola pemupukan berdasarkan varietas bibit. Untuk bibit PPKS digunakan pupuk tunggal, sementara bibit Socfin menggunakan pupuk majemuk. Selain itu, kebun juga menerapkan pupuk organik cair sebagai bagian dari strategi pemeliharaan kesuburan tanah.
Kastrasi dilakukan pada umur 12 bulan untuk menjaga pertumbuhan vegetatif optimal. Pengendalian hama dilakukan melalui pendekatan “hatch and carry” guna memastikan tidak ada serangan yang mengganggu fase awal pertumbuhan.
Di areal replanting, pembuatan parit isolasi dilakukan, terutama karena adanya ternak warga di sekitar kebun. Untuk penutup tanah digunakan Mucuna bracteata (MB), sementara pengendalian Oryctes dilakukan menggunakan jaring pelindung.
Pada areal endemik Ganoderma, perawatan dilakukan secara intensif mulai dari perawatan pasar pikul, sanitasi, semprot piringan, dongkel kayu, hingga pemupukan dan sisipan (SPH) guna menjaga populasi tanaman tetap optimal.
“Untuk TBM prima di areal endemik ganoderma kebun Laras banyak pekerjaan perawatan mulai dari perawatan pasar pikul, kastrasi, sanitasi, hingga pemupukan,” jelas Agustino.
Peserta ISGANO dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengunjungi tiga booth utama.Pada booth 1, dijelaskan rekomendasi pemupukan berbasis e-hara, pengendalian hama melalui produk kairomix untuk menarik serangga penyerbuk, serta penggunaan Ganomont berbasis e-hara untuk monitoring penyakit, termasuk Ganoderma. Sistem ini terintegrasi dengan informasi iklim berbasis web serta teknologi drone untuk pemetaan dan penentuan rekomendasi pupuk berbasis kecerdasan buatan (AI).
Untuk booth 2, PPKS memperkenalkan spesies Elaeidobius yang dibawa langsung dari Tanzania. Spesies ini berukuran lebih besar, membawa lebih banyak serbuk sari, lebih agresif, dan aktif lebih lama bahkan hingga malam hari. Karakteristik tersebut dinilai mampu meningkatkan fruit set dan berat janjang rata-rata (BJR) sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas dibandingkan spesies Elaeidobius kamerunicus yang umum digunakan.
Kemudian di booth 3, diperkenalkan pula benih PPKS 540 yang dikembangkan khusus untuk wilayah endemik Ganoderma. Benih ini merupakan hasil persilangan dura dan pisifera dari Simalungun dan Lame yang dirancang memiliki tingkat toleransi moderat terhadap Ganoderma dan telah digunakan di lingkungan PTPN.

Kunjungan lapangan ini mendapat respons positif dari peserta. Salah satu peserta mengaku mendapatkan pengalaman berharga setelah dua hari mengikuti seminar.
“Setelah mendapat materi di dalam ruangan, sekarang kami bisa melihat langsung implementasinya di lapangan. Ini kesempatan yang sangat bernilai,” ujarnya.
Peserta lain dari Wilmar menyebut kunjungan ini sebagai ajang benchmarking dan berbagi pengalaman.
“Kami membuka peluang untuk saling belajar, terutama terkait sistem PPKS dan inovasi yang bisa diterapkan untuk kemajuan bersama,” katanya.
Field trip yang salah satunya mengunjungi Kebun Laras milik PTPN IV Regional 2 ini menjadi penutup rangkaian 3rd ISGANO 2026 dengan pendekatan aplikatif. Tidak hanya membahas isu Ganoderma dan produktivitas secara teoritis, tetapi juga memperlihatkan praktik nyata pengelolaan kebun berbasis teknologi dan inovasi.

