Medan, Mediaperkebunan.id – Sudah dua pekan ini harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terus-menerus mengalami penurunan, baik di pasar domestik maupun di pasar global. Bahkan pada tender yang diselenggarakan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) periode Rabu dan Kamis (18-19/12/2024), harga CPO malah turun lebih dari Rp 250 per kilogram (Kg), sehingga harga CPO jeblok ke level Rp 14.600-an per Kg.
Menyikapi situasi ini, Gunawan Benjamin dan Wahyu Ario Pratomo sebagai dua ekonom sekaligus akademisi dari kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) memberikan pandangan dan saran yang serius kepada Media Perkebunan, Jumat (20/12/2024). Pengajar dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE-USU), Wahyu Ario Pratomo, bilang kemerosotan harga CPO seharusnya menjadi momentum bagi para stakeholder atau pemangku kepentingan industri sawit nasional, termasuk Pemerintah, untuk mengencangkan hilirisasi sawit yang kini telah berjalan.
Kata dia, Indonesia harus bisa membuat banyak produk turunan dari sawit di luar produk turunan yang telah ada selama ini, sehingga mau tak mau volume ekspor CPO bisa terus ditekan. Kebijakan itu, ucapnya, akan berdampak dua hal, yaitu konsumsi sawit di dalam negeri melalui ratusan produk turunan akan semakin meningkat, plus negara-negara asing akan berinvestasi di Indonesia untuk mendapatkan minyak sawit.
“Kalau kita sudah bisa memanfaatkan CPO kita sendiri, China atau negara lainnya akan datang dan investasi di Indonesia. Ini sama kasusnya dengan kebijakan kita dengan komoditas lain seperti nikel. Negara lain akhirnya investasi smelter nikel di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, sikap ngotot seperti itu sangat diperlukan mengingat sudah sangat lama harga CPO ditentukan oleh negara luar, tepatnya sejak zaman Hindia-Belanda, walau Indonesia adalah pemilik dan produsen sawit terbesar di dunia. Petani dan Minyak Goreng di sisi lain, saran ekonom dari kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, melihat dari sisi dampak perkembangan harga CPO tersebut ke para petani sawit dan harga minyak goreng secara umum.
“Sangat disayangkan, petani sawit harus kehilangan kesempatan mendulang untung dari kenaikan harga CPO yang sempat menyentuh RM 5.140-an per ton pada 9 Desember 2024,” kata Gunawan Benjamin .
“Namun sekarang ini, harga CPO malah terjun bebas dan ditransaksikan di kisaran level RM 4.550 per ton atau turun sekitar 12 persen hanya dalam kurun waktu 10 hari,” tuturnya lebih lanjut.
Dia menduga penurunan harga CPO di pasar internasional dipicu oleh sejumlah sentimen, seperti panen kacang kedelai di Brazil yang akan lebih baik di tahun depan, kabar penurunan kinerja ekspor minyak sawit belakangan ini.
“Dan saya melihat penurunan harga CPO ini berpeluang menekan harga produk turunannya, dalam hal ini minyak goreng berbasis sawit yang banyak digemari di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia,” kata Gunawan Benjamin.
Dirinya melihat dalam sepekan terakhir, harga rata-rata minyak goreng curah di Sumatera utara bertahan di kisaran Rp 19.500 per Kg berdasarkan hasil pemantauan lewat Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dibentuk oleh Bank Indonesia (BI).
“Harga minyak goreng curah berpeluang turun ke depan seiring dengan terkoreksinya biaya produksi minyak goreng itu sendiri. Ini kabar baik bagi masyarakat kita sebagai konsumen minyak goreng, namun justru menjadi kabar buruk bagi petani kita,” demikian analisis Gunawan Benjamin.
Harga CPO yang merosot itu, nilai Gunawan justru tidak merosot terlalu dalam karena di saat yang sama mata uang Rupiah melemah sehingga setidaknya mampu menahan kejatuhan harga sawit terlalu dalam. Menurut ya, kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan Jumat sempat menyentuh Rp 16.300 per US Dolar, sehingga mengompensasi kejatuhan pada harga CPO di pasar global.
“Dengan pelemahan Rupiah serta memburuknya harga CPO, harga minyak goreng curah berpeluang turun di bawah level Rp 19.000 per Kg,” beber Gunawan Benjamin.
Tetapi dirinya mengaku belum bisa memprediksi bagaimana kinerja harga minyak sawit di 2025. Ia sependapat dengan saran dari ekonom Wahyu Ario Pratomo tentang sejumlah langkah penyelamatan harga akan sangat bergantung dengan langkah san kebijakan Pemerintah Pusat.
“Termasuk bagaimana upaya Pemerintah dalam mendorong penggunaan sawit sebagai bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) seperti biodiesel dan bioavtur,” kata dia.
“Karena dari sisi eksternal, perlambatan ekonomi serta sejumlah kebijakan dari negara lain berpeluang menekan harga CPO kita nantinya,” tegas Gunawan Benjamin.

