Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga karet pada periode Senin (6/1/2025) ternyata mengalami penurunan yang lumayan. Perkembangan ini bisa di lihat di dua negara jiran kita, Malaysia dan Singapura.
Perkembangan harga karet di Malaysia, seperti di peroleh Media Perkebunan, adalah berdasarkan pengumuman dari Kementerian Perladangan dan Komoditas (KPK) dan berlaku untuk pasar domestik Malaysia saja.
Sementara itu perkembangan harga di Singapura berdasarkan pengumuman dari pihak Singapore Exchange (SGX) Singapore Commodity (Sicom) yang berlaku untuk pasar global.
Perkembangan Harga Karet Periode 6 Januari 2025:
Singapura
SGX-Sicom turun Rp 187.6 per Kg untuk kadar karet kering (KKK) dengan kurs Rp 16.136 per USD
Harga KKK 100 persen Rp 30.271.
Harga KKK 50 persen Rp 15.135,.
Perlu di catat, harga-harga tersebut belum di potong dengan biaya produksi yang mencakup proses pengolahan hingga distribusi. Dengan demikian, angka tersebut bisa mengalami penyesuaian tergantung pada efisiensi dan teknologi pengolahan yang di gunakan oleh para produsen.
Malaysia
Kementerian Perladangan dan Komoditi (KPK) Malaysia, dengan cuplump atau kandungan gerah kering (KGK) dan dalam mata uang Ringgit Malaysia (RM). Getah asli (Standard Malaysian Rubber/SMR 20) 857, 00 sen, turun 10 sen atau minus 1,15 persen. Lateks 806,20 sen, minus 30,57 sen atau turun 3,65 persen.
Di Semenanjung Malaysia, harga karet turun sebesar 7,04 sen menjadi 367,45 sen per kg, sementara di Sabah turun 6,53 sen menjadi 333,47 sen per kg. Untuk wilayah Sarawak, harga tetap stabil di 317,74 sen per kg, menandakan adanya perbedaan dinamika pasar di setiap wilayah.
Penurunan harga karet ini di sinyalir akibat berbagai faktor, termasuk fluktuasi permintaan pasar global, pengaruh nilai tukar mata uang, serta kondisi cuaca yang memengaruhi produksi. Para pelaku industri karet perlu mengambil langkah strategis untuk mengatasi tantangan ini, seperti meningkatkan efisiensi produksi dan menjajaki pasar ekspor baru untuk menjaga keberlanjutan usaha.

