2nd T-POMI
2024, 30 Januari
Share berita:

JAKARTA, media perkebunan.id – Ancaman Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit semakin menakutkan. Hal tersebut dijelaskan dalam Simposium Internasional Ganoderma yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan, Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Bandung pada hari ini, Selasa (30/01).

Di Indonesia sendiri, industri kelapa sawit masih jadi tumpuan untuk menjaga perekonomian nasional karena pertumbuhan dan perkembangannya yang menjanjikan. Namun, ancaman Ganoderma masih jadi salah satu tantangan dan persoalan di lapangan yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit. Padahal, ekspor pertanian di Indonesia didominasi oleh minyak kelapa sawit yang nilainya pada tahun 2022 mencapai USD34,94 atau sekitar Rp600 Triliun.

Apa yang Dimaksud Ganoderma?

Ancaman Ganoderma Boninense jadi persoalan penting bagi pertumbuhan perkebunan kelapa sawit. Ganoderma adalah busuk pangkal batang, yaitu penyakit yang sangat mematikan bagi tanaman kelapa sawit.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), Eddy Martono, penyakit busuk pangkal batang merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan sawit di Indonesia. Semula, penyakit ini hanya menyerang perkebunan di Sumatera, tetapi sekarang ada di Kalimantan dan Sulawesi.

Semakin banyak sawit yang terkena dan eridikasi banyak dilakukan, maka populasi bisa berkurang dan produktivitas menurun. Disebutkan bahwa saat ini populasi kelapa sawit semakin menurun, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah serangan Ganoderma.

Fenomena Serangan Ganoderma pada Perkebunan Sawit Indonesia saat Ini

Ketua bidang P3PI, Gusyana, menyatakan bahwa bahaya diperkirakan pada tahun 2050 sampai 2100 produksi Sawit tidak lagi berkelanjutan karena serangan Ganoderma. Tidak hanya tanaman sawit generasi kedua, Ganoderma kini telah menyerang kelapa sawit generasi pertama.

Berbeda dengan Malaysia, data valid soal lahan sawit yang terkena penyakit busuk pangkal batang bahkan belum diketahui di Indonesia. Ada Yang menyebutkan sekitar 200 ribu hektar meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, dan Kalimantan Tengah. Data dari pengamatan dinas perkebunan di lahan sawit milik petani. Total luas lahan sawit yang terserang sekitar 2.428 hektare dengan nilai kerugian Rp 3,6 miliar.

Baca Juga:  Kado Istimewa untuk Harbun: Sertifikasi ISPO Tembus 5,45 juta Hektar dengan Produksi CPO 13 juta Ton/Tahun

Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah menyatakan bahwa perkebunan rakyat yang terkena Ganoderma mencapai 46.767 ha, paling besar di Sumut yang sudah masuk generasi ke lima, 34.000 ha. Perkebunan rakyat yang terkena tersebar di 12 provinsi yaitu NAD, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Bangka Belitung, Sumsel, Lampung, Kalteng, Kaltim, Kalbar dan Sulbar.

Seringkali ancaman Ganoderma yang terjadi baik di perusahaan dan perkebunan rakyat ini terlambat disadari sehingga harus dieridikasi. Banyak upaya untuk melakukan mitigasi ganoderma seperti sanitasi, deteksi dini dan rekayasa tanaman tahan ganoderma. Hasilnya belum memuaskan sehingga harus dilakukan berbagai upaya. Serangan ganoderma sudah meluas di sentra provinsi sawit dan pengendaliannya sangat spesifik lokasi, sehingga mitigasi A misalnya berhasil di satu provinsi belum tentu berhasil di provinsi lain.

Ancaman Ganoderma atau serangan penyakit busuk pangkal batang yang diakibatkan Ganoderma merupakan salah satu pengaruh terhadap keberlanjutan sawit yang menjadi ancaman besar dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia. Perlunya data yang transparan, cara untuk mengatasi yang tepat, dan penelitian lebih lanjut mengenai upaya pencegahan potensi pengendalian Ganoderma menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan perekonomian nasional.