Klaten, mediaperkebunan.id – Bayer JUARA (Juwiring Agriculture Research & Academy) menjadi wujud nyata komitmen Bayer Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Indonesia. Program ini juga merupakan ruang kolaborasi antara teknologi, pengetahuan, dan pengalaman lapangan sehingga menjadi pusat riset dan inovasi pertanian berkelanjutan.
Berdasarkan proyeksi FAO, kebutuhan pangan dunia diperkirakan meningkat hingga 70% pada tahun 2050 untuk memenuhi kebutuhan populasi yang akan melampaui 9 miliar jiwa. Secara global, hama dan penyakit tanaman menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 40% setiap tahun. Dampak perubahan iklim seperti fenomena El Niño juga memperparah kondisi ini, dengan penurunan produktivitas padi hingga 30% di sejumlah wilayah Indonesia.
Melihat tantangan tersebut, sekaligus bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia (World Food Day) 2025, Bayer Indonesia menegaskan kembali pentingnya inovasi berbasis sains sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Komitmen ini diwujudkan melalui Bayer JUARA (Juwiring Agriculture Research & Academy) yang berlokasi di Klaten, Jawa Tengah. Dalam dua beroperasi telah memperkuat posisinya sebagai pusat penelitian dan pengembangan (R&D) pertanian pertama dan terbesar Bayer di Indonesia serta terbesar kedua di Asia Tenggara.
“Peringatan Hari Pangan Sedunia semakin menegaskan komitmen kami untuk menghadirkan inovasi pertanian berkelanjutan berbasis sains. Kami meyakini, perwujudan ketahanan pangan harus berfokus pada pelaku utamanya, yakni para petani. Kami memahami bahwa permasalahan petani sangat beragam dan terus berkembang. Ini yang semakin menguatkan Bayer JUARA untuk bisa menjadi mitra erat bagi para petani,” ujar Kukuh Ambar Waluyo, Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan.
Lewat Bayer JUARA, para petani mendapatkan akses terhadap pengetahuan dan teknologi pertanian terkini yang bisa langsung diterapkan di lapangan. Bayer JUARA juga terus mendengarkan dan memahami permasalahan nyata yang dihadapi petani mulai dari fase persiapan tanam hingga panen.
Tak hanya itu, Bayer JUARA secara konsisten berperan aktif dalam pengembangan riset dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan petani Indonesia. Setiap tahunnya dilakukan sekitar 120 uji coba teknologi dan benih yang hasilnya kemudian diterapkan langsung untuk membantu petani di berbagai daerah.

Diresmikan pada tahun 2023, fasilitas riset ini berdiri di atas lahan seluas 9 hektar dan berfokus pada pengembangan perlindungan tanaman, benih unggul, analisis data pertanian, serta penerapan teknologi pertanian presisi. Melalui pendekatan ini, Bayer JUARA berupaya menciptakan sistem pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
Untuk memperkuat hasil riset tersebut, Bayer JUARA menjalankan pilar “Training & Academy” melalui penyuluhan dan workshop tentang praktik budidaya yang sesuai dengan kondisi petani serta penerapan teknologi terkini. Salah satunya adalah Klinik Tani Bayer JUARA yang menjadi ruang bagi petani untuk berkonsultasi langsung dengan tim ahli Bayer sehingga mereka dapat memperoleh solusi tepat atas permasalahan di lapangan.
“Di Bayer JUARA ada juga Klinik Tani. Jadi sangat bermanfaat untuk petani menyampaikan berbagai keluhan ke tim Bayer yang berpengalaman di bidangnya,” ungkap Awibowo, salah satu petani di Juwiring yang aktif mengikuti program pendampingan.
Pendampingan yang diberikan Bayer JUARA terbukti memberikan dampak nyata bagi peningkatan hasil panen. Awibowo menuturkan bahwa setelah mengikuti program pendampingan, produktivitas lahannya meningkat signifikan. Rata-rata hasil panennya mencapai 8–10 ton per hektar, bahkan dapat menembus 12 ton pada periode tertentu atau naik sekitar 20 persen dibanding sebelum pendampingan.
Selain fokus pada pemberdayaan petani, Bayer JUARA juga berperan aktif dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pertanian masa depan. Bayer JUARA menjalin kemitraan dengan delapan universitas terkemuka di Indonesia.
Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman riset tetapi juga kesempatan untuk memahami kondisi pertanian di lapangan secara langsung. Sejak 2023, sebanyak 25 mahasiswa telah mengikuti program magang dan penelitian di Bayer JUARA. Salah satunya adalah M. Hafizh Firmansyah, mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.
“Bulan keempat magang di Bayer JUARA, saya belajar banyak hal baru salah satunya tentang polinasi tanaman jagung mulai dari waktu, dosis, hingga tekniknya. Apa yang dipelajari secara teori di kampus bisa langsung diterapkan dan memberikan pengalaman berharga di lapangan,” ujar Hafizh.
Peran Bayer JUARA dalam memperkuat sektor pertanian Indonesia turut mendapat apresiasi dari pemerintah. Pemerintah menilai bahwa langkah Bayer dalam menghadirkan pusat riset dan pelatihan merupakan wujud nyata kontribusi sektor swasta terhadap kemandirian pangan nasional.
“Hari Pangan Sedunia menjadi momen penting untuk melihat masa depan pangan dan pertanian Indonesia. Kita tidak boleh menggantungkan ketahanan pangan pada negara lain. Presiden Prabowo melalui Kemenko Pangan menegaskan bahwa kita harus hadir dengan teknologi, bukan hanya menjadi pasar bagi produsen pangan, tetapi menjadi pemain dan produsen pangan yang tangguh,” ujar Dr. Prayudi Syamsuri, SP., M.Si, Staf Ahli Bidang Manajemen Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia.

